Halaman

Minggu, 23 Agustus 2015

[Re-post] Maher Zain - Number One For Me | Official Music Video








Saat mendengar lagu ini, saya kembali teringat pada ibu saya. Beliau tidak pernah kurang dalam memberikan perhatian dan seluruh kasih-sayang pada putri-putrinya. Setiap pagi, sarapan telah tersedia bahkan sebelum kami siap untuk berangkat ke sekolah. Saat kami akan berangkat ke sekolah, ibu hampir selalu mempersiapkan bekal makan siang. Sayangnya, selera makan saya saat itu sangat rendah. Jadi, seenak apapun makanannya, saya kesulitan untuk memakannya apalagi jika harus menghabiskannya di luar rumah. Di depan teman-teman pun, saya mendadak merasa kenyang. Hasilnya, setengah dari isi kotak makan saya pasti akan kembali ke tangan ibu pada sore harinya. Saya sangat sedih karena hal itu sering terjadi. Akhirnya, bertahun-tahun kemudian, saya memutuskan untuk menghabiskan makanan yang masih tersisa di dalam kotak makan itu sepulang sekolah. Ibu saya tahu bahwa bekal makan siang saya tidak habis, dan hal itu pasti membuatnya sedih. Jadi, ibu selalu berpesan agar saya memastikan baik-baik apakah makanan tersebut masih layak untuk dimakan atau tidak. Tentu, beliau tidak ingin putrinya jatuh sakit karena memakan makanan basi.

Kini, saya sangat merindukan hal-hal seperti itu. Saya rindu kehadiran ibu, saya rindu senyum ibu, pelukan ibu, dan tentunya masakan ibu. Seringkali saya berharap beliau ada di sini, membawakan bekal makan yang lezat kala saya berangkat kerja atau kuliah. Dan kini, saya pasti dapat menghabiskannya. Tidak ada lagi rasa malu ataupun rasa "ra kolu". Bahkan, saya akan membawa pulang kotak makan itu dalam keadaan bersih, dan menunjukkannya kepada ibu dengan rasa bangga. Saya akan melakukannya dengan senang hati karena saya dapat membuat beliau lebih banyak tersenyum. Namun tentu saja hal itu hanya khayalan karena kini beliau telah tiada.



Lagu ini mengingatkanku akan betapa pentingnya sosok ibu. Kehadiran beliau selalu kurindu.

That's why I like this song very much :)

Selasa, 11 Agustus 2015

Berfikirlah Sebelum Berbicara!

Hari ini cuaca sangat cerah. Namun, entah mengapa saya merusak semuanya begitu saja.
Tak perlu berpanjang kata. Garis besarnya kurang lebih seperti ini:

Semalam (10/08/15) keponakanku sedikit demam. Ia tidur lebih awal, tetapi di sepertiga malam ia terbangun karena merasa mual. Paginya (11/08/15), keadaannya mulai membaik, tapi jelas terlihat bahwa ia sedang tidak sehat. Pagi itu semuanya dapat berjalan lancar -saya tidak berbicara apalagi bersikap kasar kepadanya. Namun, selepas adzan Dhuhur, saya menghancurkan semuanya.

Saat itu saya sedang menjemur peralatan makan dan memasak yang baru saja digunakan. Tidak terlalu banyak sih, tetapi suara anak itu yang berulang-ulang membuat saya mulai 'naik darah'. Semestinya saya bisa mengendalikan diri, terlebih anak itu sedang kurang sehat.

Saya ingat, saat itu keponakan saya memanggil nama saya lebih dari tiga kali, kemudian ia mendatangi saya. Ia masih memanggil nama saya meski telah menjumpai saya. Semestinya, saya bisa berpaling padanya, kemudian menjawabnya dengan lembut sembari tersenyum,"iya sayang, ada apa?"

Tapi apa yang saya lakukan???!
Saya justru berbicara tanpa tersenyum sedikitpun (meski tidak membentaknya).
Saya berkata,"R sudah lihat Tante kok masih panggil-panggil sih?"
Dia menjawab,"Lha kan Tante nggak denger.."
Saya menimpali,"Memangnya nggak lihat Tante baru apa?"
Dia diam.

Saat itu juga sebenarnya saya tersadar. Saya pernah mengajarinya untuk menyahut saat dipanggil, tetapi ironisnya saat itu saya tidak menjawab satupun panggilannya.
Saya pernah mengajarinya untuk segera mencari orang yang berulang kali kita panggil tetapi tidak jua menyahut, ironisnya siang itu saya mengabaikan kehadirannya.

Apa yang telah saya lakukan??

Saya sadar saya salah, tetapi saya terlalu gengsi untuk segera minta maaf di depan ayahnya yang sesaat setelah itu memilih menemani putrinya.

Semestinya saya segera mendatanginya dan meminta maaf padanya, tetapi saya justru pergi ke kamar lalu menulis catatan ini.

Baik! Akan segera saya lakukan setelah selesai menulis ini...

Tapi tidak! Saya harus melakukannya sebelum saya menerbitkan tulisan ini... Saya harap, sedikit cerita ini dapat menjadi bahan renungan bagi semua orang dewasa, terutama dan tidak terkecuali untuk saya sendiri.

Berfikirlah sebelum melakukan apapun, terlebih sebelum berbicara !

Senin, 27 Juli 2015

Di Manakah Diriku?

Akhir-akhir ini, aku sering terlalu peduli dengan urusan orang di luar sana yang bahkan sebagian besar belum pernah kutemui secara langsung.
Ironisnya, aku justru menjadi acuh dengan orang-orang di sekitarku. Aku jarang sekali menanyakan kabar keluargaku, tetanggaku, kerabatku, dan teman-temanku yang nyata. Aku pun menjadi sulit untuk bertanya apakah mereka memerlukan bantuanku..

Inikah dampak buruk pertemanan via internet yang dulu sering sekali dikeluhkan oleh generasi tua?
Inikah aku yang meski wawasanku semakin luas, namun interaksi sosialku menyempit?
Inikah aku yang oleh orang-orang di luar sana digemari, disenangi, dan dijadikan bintang, tetapi di tengah keluarga dan lingkunganku yang nyata aku menjadi orang tanpa guna?

Di manakah diriku yang sebenarnya?

Kamis, 09 Juli 2015

Akankah Kini Semuanya Nampak Lebih Berarti?

Bukan tanpa tujuan saya menulis semua ini. Kali ini, semuanya terasa sangat berbeda. Maaf jika nanti akan ada banyak hal yang ganjil dan terkesan berantakan -tidak beraturan. Saya mencoba menulis semua hal yang terlintas dalam benak saya saat ini. Saya akan memulainya sekarang.

:::::::

Beberapa tahun lalu, yakni antara tahun 2007 hingga 2011, saya pernah mengalami suatu hal yang setelah itu ada seseorang yang mengatakan kepada saya bahwa kemungkinan besar saya akan melahirkan anak dengan cara sesar (caesar). Bukannya menjawab dengan doa yang lebih baik, gejolak emosi saya yang mudah meledak kala itu justru mendorong saya untuk membalas ucapan orang itu tanpa berfikir panjang. Saya bilang "Paling juga nggak akan sampai situ."

Deg, beberapa saat setelah itu saya baru tersadar.
'Apa yang saya katakan? Seenaknya saya mengucapkan hal yang maknanya mendahului ketetapan Allah?'

Buru-buru, saya meminta ampun pada-Nya di dalam hati. Kini, saya menyesal mengapa saat itu saya tidak turut meminta ampun menggunakan lisan saya.

:::::::

Bertahun-tahun lamanya, saya kembali teringat ucapan saya kala itu.

Senin, 1 Juli 2013, sekitar pukul 20:30 WIB, saya mengalami musibah. Dan hasilnya, saya harus rela mendapat cacat pada jari kelingking tangan kanan saya. Memang beberapa kali sebelumnya saya kerap mengalami kecelakaan lalu lintas, entah itu jatuh di ujung jembatan demi menghindari kemungkinan tercebur ke dalam jembatan karena nyaris menabrak taksi yang berhenti mendadak di depan saya, atau yang menjatuhkan diri karena bagian rok yang saya kenakan tersangkut ke dalam gir roda belakang sepeda, tetapi semua itu ternyata masih lebih baik daripada kejadian awal Juli 2013 lalu.

Saya bersyukur, saya masih diberi kesempatan untuk hidup. Saya sangat berterima kasih kepada Allah dan anggota tubuh saya, terutama jari kelingking saya. Meski harus mengalami luka yang lebih parah daripada bagian tubuh lain, jari kelingking tangan kanan saya turut menjadi perantara atas keselamatan jiwa saya. Ia patah, bukan hanya retak. Jika kini saya bisa menggerakkannya, itu semua karena Allah masih memberi saya rezeki dengan tetap membuat saraf dan otot-otot pada jari itu tersambung. Tulangnya memang patah, tepat pada ruasnya, tapi otot, saraf, dan pembuluh darah masih utuh. Kini, saya memang tidak dapat melipat dan meluruskannya dengan sempurna, tetapi saya sangat bersyukur bahwa saya tidak perlu kehilangannya. Saat menyadari hal itu pada malam harinya, yakni saat menjelang tidur. Saya bertekad, apapun yang akan dilakukan oleh dokter (jika saya memang harus menjalani operasi, dan ada biaya untuk itu) akan saya lakukan. Tetapi jika memang tidak ada biaya untuk itu, saya berniat menjalani terapi apapun untuk memulihkan fungsinya. Dan ternyata tidak cukup uang untuk membiayai operasi dan pemasangan pen satu jari. Lagipula, dokter mengatakan bahwa setelah operasi keadaan jari saya belum tentu kembali seperti semula. Selain itu, saya masih harus menjalani terapi pemulihan. Dengan perkiraan seperti itu, saya lebih memilih untuk menjalani terapi tanpa operasi. Biayanya lebih murah -jauh lebih murah- daripada serangkaian tindakan yang disarankan oleh dokter. Hari-hari setelah kejadian itu, kerap tergaung dalam benak saya bahwa ini hanya mimpi. 'Ini hanya mimpi, dan saya akan segera terjaga.' Tapi kenyatannya, itu semua nyata, bukan sekedar bunga tidur.

:::::::

Dua tahun berlalu semenjak saat itu, tepatnya pada Selasa, 7 Juli 2015, saya kembali mengalami kejadian yang hampir sama seperti dua tahun sebelumnya. Tapi kali ini bukan menimpa saya secara langsung, melainkan kemenakan kandung pertama saya, Rista Salsabila. Usianya baru 3 tahun 5 bulan. Karena kelalaian saya, kaki kanan balita itu masuk ke dalam ruji belakang sepeda saya. Jika dilihat dari lukanya, sama sekali tidak parah. Cukup dibersihkan dan diberi obat, in sya Allah sembuh.

Namun, hasil rontgen keesokan harinya membuat saya benar-benar terkejut. Ada yang salah dengan kaki kanannya. Tulang punggung kakinya tidak terlihat seperti semestinya. Sedikit bergeser dan menumpuk. Saya tahu dan benar-benar sadar, itu bukan keadaan yang baik bagi seorang anak yang sedang sangat lincah. Itu pertanda buruk. Saya paham betul meski saya tidak pernah mengenyam pendidikan radiologi dan fisioterapi secara akademik. Dia mengalami hal yang hampir sama dengan saya. Tapi kaki? Bagi seorang anak, hal itu akan menjadi perjuangan yang cukup berat.

Namun, bayangan tentang keadaan yang seperti itu ternyata tidak lebih buruk daripada menyadari ucapan balita tersebut pagi ini. Kamis, 9 Juli 2015 dini hari, tepatnya ketika kami menunggu waktu imsak, Rista berkata,"Rista pakai baju putih, mama jadi nenek-nenek, pakai baju coklat. Rista sayang nenek-nenek."

Kemudian, ia juga bertanya,"Papa dan mamanya Mama ke mana? Rumahnya di mana? Kok Rista nggak pernah lihat? Papa-mama Mama di mana?"

Kemudian, ia mengulang ucapan pertamanya tentang baju putih-putih dan mamanya menjadi nenek-nenek.

Jujur, saya sempat merinding saat mendengar percapakan anak itu dengan ibunya. Saya teringat, beberapa kali sebelum musibah itu, saya sering melihatnya terbangun saat saya pulang malam. Saya berulang kali terkejut saat melihatnya. Ia duduk di kasurnya di dalam ruang yang telah diredupkan lampunya sembari memperhatikan saya. Ia menatap saya dan saya memandangnya. Tetapi bukan ia yang saya temukan dalam pandangan itu. Sungguh, saya melihat itu bukan seperti tatapannya. Itu siapa? Siapa yang sedang memandang saya?

Berulang kali hal itu terjadi, dan saya sadar, hal itu telah berlangsung selama lebih dari tiga bulan sebelum kejadian dengan sepeda itu.

Saya berdoa, terus-menerus berdoa,
"Ya Allah, tolong beri Rista kesembuhan. Pulihkan keadaannya. Beri dia waktu lebih lama untuk tumbuh dan berkembang. Saya tidak ingin menyesal untuk ke-dua kalinya, ya Allah. Saya mohon. Saya berjanji akan memperlakukannya dengan lebih baik, mendidiknya dengan lebih halus, memperhatikannya, dan mencurahkan lebih banyak waktu bersamanya. Tolong beri ia waktu lebih lama, ya Allah. Tolong beri saya waktu untuk menebus kesalahan-kesalahan saya padanya. Saya mohon, kabulkanlah doa saya. Aamiin."

:::::::




Sobat, saat menyadari bahwa sesuatu atau seseorang, bahkan diri kita sendiri, benar-benar tidak akan kekal abadi di dunia ini, kita akan cenderung menginginkannya lebih lama lagi ada di sisi kita, lebih lama lagi untuk tinggal, untuk hidup di dunia ini. Sekilas, kita akan memanggil kembali ingatan-ingatan kita di masa silam, terutama tentang kenangan akan hal yang hampir "hilang". Satu-satunya penguat hati adalah ingatan bahwa semua hal, semua makhluk, akan kembali kepada pemiliknya. Dan pemilik itu adalah Tuhan.

Meski begitu, tetap saja kita akan merasa sangat kehilangan jika kita benar-benar kehilangannya. Jadi, hal yang bisa kita lakukan adalah berserah kepada-Nya, memohon pada-Nya, berharap pada-Nya, dan melakukan semua hal baik sekecil apapun itu kepada siapapun di dunia ini, baik kepada sesama manusia, maupun kepada makhluk hidup lain, serta tidak berlaku semena-mena terhadap benda mati sekalipun, karena bisa saja benda mati itu adalah perantara perpisahan kita dengan benda mati lain atau bahkan dengan makhluk hidup yang lain.

Saya pernah alpa dalam meletakkan buntelan tas yang saya bungkus kresek (plastik) di dalam keranjang sepeda tanpa mengikatnya ke bagian sepeda sama sekali. Hasilnya, seseorang mengambilnya dengan mudah. Ia merampasnya tanpa mendapat sedikitpun perlawanan dari saya. Saya kehilangan benda-benda mati penting yang ada di dalam tas itu. Tas seisinya raib dan belum ditemukan hingga saat ini.

:::::::

Sobat, selalu ada hikmah di balik suatu kejadian. Sesuatu terjadi bukan tanpa sebab. Ayat-ayat di dalam Al-Qur'an pun berkali-kali menyebutnya

".... menjadi pelajaran bagi orang-orang yang berfikir."

Dan nampaknya hal itu memang benar adanya.

Jika kita benar-benar merenungi rangkaian peristiwa yang telah lampau, yang akan kita temukan hanyalah "suatu pola dan rangkaian hikmah atas sesuatu yang telah berlalu." Dan itu semua akan berakhir pada kesadaran bahwa kita bukan sedang melangkah ke depan, melainkan berjalan ke belakang.

Saat orang-orang merayakan ulang tahun kita, sejatinya usia kita tidak bertambah. Angkanya memang bertambah, tetapi kesempatan kita untuk hidup di dunia ini semakin berkurang. Kita sedang berjalan ke dalam kehidupan yang lebih kekal. Kita dalam perjalanan pulang, dan perjalanan kita hanya sebentar.

Benar kata pepatah Jawa
"Urip kuwi mung mampir ngombe"


Hidup itu hanya singgah, hanya mampir untuk minum. Berapa lama sih waktu kita untuk minum?

:::::::







Akankah kini semuanya nampak lebih berarti?

Semoga ada banyak pelajaran yang dapat kita petik dari sedikit cerita pagi ini.

Senin, 15 Juni 2015

Pena Media: Paket Penerbitan Menarik

Pena Media: Paket Penerbitan Menarik: Paket Murah Paket Murah berfasilitas:       1.       Desain Cover       2.       ISBN Barcode       3.       Layout/Tataletak ...

Selasa, 26 Mei 2015

Kejutan dari Rista

Hari ini, Selasa, 26 Mei 2015, saya mendapat satu lagi kejutan dari ponakan tersayang, Rista Salsabila. Usianya 3 tahun.
Baru saja dia membuat saya tersenyum sendiri. Bagaimana tidak? Dia bisa membedakan dua ponsel yang nyaris sama (bedanya hanya terletak pada tombol "home"; yang satu persegi, satunya persegi panjang). Dia bisa tahu itu ponselnya atau ponsel ayahnya.

Kalau dipikir, bagaimana cara dia melakukannya?

Lagi2 hukum kognisi neurosains berlaku.

Benar begitu, bukan?

Jumat, 22 Mei 2015

Koleksi Hilary Duff ~ Wake Up

Penasaran?
Langsung klik aja link ini... Musiknya asik..

http://www.jango.com/stations/113266317/tunein

Hilary Duff - I'm The Best - Dora's Ice Skating Spectacular 2014 HD



"I'm The Best"

I'm the best, the best on the ice you see.
I put the rest to the test but no one skates like me.
So if you see my on the rink
take one look and I think you'll agree 
that I'm as cool as can be...
yeah.

Spinnin' like a top I just can't stop.
Now figure eights? Piece of cake.
Look out now, I'm comin' through.
I'm hoppin' higher than a kangaroo!

Watch me go!
Such style, such grace!
I never, ever come in second place!

Ha!
I can do this stuff in my sleep.
Like, literally while I'm countin' sheep.

But when it comes to speed
soy alla me hor!
I've never been beaten in a race before.
So I'm not gonna stop 'till it's totally clear
that I'm the only real skater here.
Yeah, I'm the only real skater here.

Now listen up 'cause you're cramping my style!
Yeah I've been sharing the ice for a while.
From now on let's get one thing straight.
I'm the only one who's allowed to skate!

I'm the best, the best on the ice you see.
I put the rest to the test but no one skates like me.
So if you see me on the rink
take one look and I think you'll agree
that I'm as cool as can be...
yeah.

Yeah...

Rabu, 22 April 2015

Hari Bumi




Mengapa 22 April ditetapkan sebagai Hari Bumi?

Bagaimana sejarahnya?

Apa yang terjadi pada hari itu sehingga tanggal 22 April ditetapkan sebagai Hari Bumi?

Bagaimana kita memaknainya (bukan sebagai suatu peringatan khusus, melainkan sebagai pengingat bahwa kita hidup di atas bumi)?


Sebagai makhluk yang diciptakan dengan berbagai keunggulan dibandingkan dengan spesies lainnya, manusia memiliki kewajiban untuk menjaga keadaan bumi tetap stabil, sehingga dapat menjadi tempat hidup yang tetap layak untuk semua makhluk ciptaan-Nya. Bagaimana upaya kita saat ini?

Adakah yang tahu jawaban pasti dari beberapa pertanyaan utama di atas? Share, yuk

Minggu, 01 Maret 2015

Di manakah Barang-Barang Ini Sekarang?


Jumat, 13 Februari 2015, sekitar pukul 18.00 WIB, saya mengalami suatu hal yang saya harap dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Kejadian yang entah dikategorikan sebagai penjambretan, perampasan, pencurian, atau pencopetan tersebut berlangsung sangat cepat dan benar-benar di luar dugaan saya. Saat itu saya sedang mengendarai sepeda dalam perjalanan pulang dari bekerja di daerah tenggara kota Yogyakarta menuju tempat tinggal di wilayah Umbulharjo. Dalam perjalanan itu, saya sempat berhenti di simpang empat Veteran, tepatnya di sisi timur RSI Hidayatullah karena lampu lalu lintas menyala merah. Tidak berapa lama kemudian, lampu kembali hijau. Saya berbelok ke kanan, menuju arah XT Square. Baru berjalan kurang dari 50 meter, seorang pengendara motor matic mendekati saya dari sisi kanan. Semula saya kira ia menjadi sangat dekat karena posisi saya yang sedikit ke tengah jalan demi menghindari beberapa lubang yang mungkin ada di bawah kubangan air di tepi jalan yang terbentuk usai hujan beberapa saat sebelumnya. Namun, dugaan saya meleset. Orang yang nampaknya laki-laki itu dengan lincahnya menjulurkan tangan kiri dan mengambil barang yang saya bungkus kresek oranye bertulisan Mutiara Mas Medika yang saya letakkan di dalam keranjang sepeda. Dengan gerakan kilat, ia memindahkan barang bawaan saya ke depan jok motornya, tepat ke atas sebuah ransel traveling yang cukup besar, berwarna hitam-biru yang sepertinya kosong, yang diletakkan di antara kedua kakinya. Saya sempat berteriak “Hei, woy! Maling! Pencuri!” sebelum pencuri itu bergerak menjauh. Saya pun sempat meminta tolong kepada orang-orang di sekitar saya, namun mungkin ucapan saya tidak terdengar jelas, sehingga mereka diam saja dan hanya memandang saya. Tak mau kehilangan jejak, saya berusaha keras untuk membaca plat nomor kendaraan dengan cara mengejarnya, tetapi pendar lampu belakang motor nampaknya berhasil menutupi plat nomor motor yang mulai dilajukan dengan kencang menuju keramaian jalan yang biasanya sepi, sehingga saya tidak dapat melihat ke arah mana orang itu pergi. Masih ada persimpangan setelah tempat kejadian perkara, yakni ke utara arah jalan Glagahsari dan ke barat arah jalan Menteri Supeno, tapi saya tidak tahu ke arah mana orang itu pergi. Saya sangat menyesali keteledoran saya hari itu, yakni dengan memindahkan barang dalam plastik kresek oranye tersebut ke atas mantol yang saya kenakan beberapa saat sebelumnya, padahal semula mantol itu sempat bertengger di atas buntelan kresek oranye yang berisi sepasang kaus kaki putih bertepi ungu (di dalam kresek putih) dan sebuah tas selempang coklat susu berhias sepatu bertali di bagian depannya, dengan plisir rit coklat tua. Tas perempuan kain semi kanvas tersebut berisi tiga buah ponsel, yakni sebuah ponsel Samsung Galaxy Y duos GT-5312 berwarna putih dengan silicon case ungu beserta charger putihnya, sebuah ponsel E-Touch Silver dengan silicon case kuning dan gantungan tali kecil, dan sebuah ponsel E-Touch silver bersilicon case hijau muda. Saya menyesal membawa ketiganya, sedangkan biasanya hanya maksimal dua buah. Selain ponsel, ada sebuah pouch putih bertulisan “Laxing”, berisi sebuah buku tabungan BRI a/n Triningsih Rahmawati, yang di dalamnya terselip sebuah kartu perpustakaan kota Yogyakarta dan dua buah kartu member Karuma Swalayan dan Mirota Kampus a/n Triningrum Kurniawati; sebuah flashdisk 4 GB bening dengan tali berwana biru bertulisan WD Stor; sebuah gantungan kunci berbentuk lebah yang saya buat sendiri seperti lambang Beetalk, tiga lembar Hansaplast jumbo; dan beberapa hal lain yang tidak saya ingat sepenuhnya. Selain itu, ada sebuah sebuah dompet pouch putih yang bergambar, bertulisan, dan berplisir rit merah, dengan dua kantong. Kantong pertama berisi peralatan make up, meliputi bedak Marina (tinggal sedikit), lipstik Viva merah muda (masih baru), sikat kecil pembersih gigi dengan tangkai hijau muda, seamplop kertas wajah, dan sebuah puff bedak muka yang masih terbungkus plastik. Sementara kantong di sebelahnya berisi sebuah buklet informasi publik yang dikeluarkan oleh Mirota Kampus dan beberapa surat penting seperti KTP, SIM C, KTM dan Kartu Perpustakaan UST, sebuah ATM BRI, kartu Askes, kartu Flazz dari BCA, dan beberapa lembar kartu pasien dari JIH, RS Mata dr. Yap, RSPAU Hardjolukito, RSI Hidayatullah, dan Puskesmas Umbulharjo, semuanya a/n Triningsih Rahmawati.

Selain itu, terdapat sebuah botol minum keluaran Tupperware berwana kuning kehijauan, berukuran 330 ml; sepasang kaus tangan berwarna biru-hitam; sebuah kacamata hitam bertulisan RB Space; sebuah kantong transparan keluaran Garuda Indonesia yang berisi sebuah kacamata bening dengan frame dan tangkai hitam; dua potong jilbab instan tebal dan sebuah pakaian batik berwarna coklat; sebuah jilbab putih bertepi hitam; sebuah mantol plastik oranye-merah; sebuah mantol tas ransel berwarna hitam; sebuah dompet koin bermotif batik berwarna coklat muda; dan sebuah tisu gulung. Di bagian saku depan tas terdapat beberapa lembar uang ribuan, sebuah kartu berlangganan reguler dari Dinas Perhubungan untuk pengguna bus Trans Jogja; dan tiga buah kunci yang terangkai menjadi satu.

Barangkali Anda terkejut membaca rincian barang yang saya sebut berada di dalam tas yang saya bawa kala itu. Saya pun terkejut ketika menuliskannya dan tak habis pikir mengapa pagi sebelum kejadian, saya membawa begitu banyak barang padahal tujuan saya pagi itu hanya untuk bekerja. Apapun itu, hingga hari ini saya masih berharap semua barang yang hilang dapat ditemukan dan kembali ke tangan saya dalam keadaan utuh sama seperti ketika diambil oleh pencuri bermotor tersebut. Untuk itu, saya meminta kesediaan semua pihak yang membaca tulisan panjang ini untuk menyerahkan barang-barang yang saya sebutkan di atas bila mungkin Anda melihat atau menemukannya. Jika mengalami kesulitan untuk mengantarkannya langsung ke tempat tinggal saya, Anda dapat menitipkannya di kantor polisi terdekat dengan lokasi Anda. Jika Anda telah menyerahkan barang temuan tersebut ke kantor polisi, silakan kirim pesan singkat (sms) pemberitahuan kepada saya di nomor 088802804360. Mohon maaf, saya tidak menerima panggilan telepon. Terima kasih banyak telah meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini ^_^

Rabu, 04 Februari 2015

Inikah Cinta?

Aku tidak tahu bagaimana rasanya terperangkap cinta. Aku tak pernah menolak rasa tertarik dan penasaran. Tapi dulu, aku selalu mengelak hadirnya hubungan yang berasal dari rasa itu. Aku melakukannya setelah sekian tahun lamanya cintaku bertepuk sebelah tangan. Ya, cintaku (setidaknya hingga tahun 2014 lalu), tak pernah bersambut.

Hmm.. rasanya baru kemarin semua itu terjadi. Cinta monyet masa sekolah dasar dan sekolah menengah agaknya turut andil membentuk persepsiku akan cinta. Rasa yang mengiringinya seakan tak pernah berakhir indah. Seolah, aku berjalan melintasi sebuah taman bunga yang ada banyak buku berserakan di atas tanahnya dan membuatku penasaran, tapi tak ada izin bagiku untuk membuka lembarannya, bahkan sekedar menyentuhnya.

:::

Kini, hari ini, entah sejak kapan aku mendapati rasa itu. Padanya, yang bahkan belum pernah kutemui.

Aku berdo'a dan berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar jika ia adalah benar jodohku, calon suamiku, dan kelak ia menjadi suamiku, maka mulai hari ini kami tak saling mengirim pesan yang sangat dekat seperti biasanya. Tetapi aku berharap, rasa jauh itu sebagai awal kedekatan hakiki di antara kami. Aku berharap, rasa jauh ini mampu mendekatkan hatiku dan hatinya kepada Ilahi Rabbi. Dan aku berharap, kelak Allah pertemukan kami dalam ikatan yang suci dan halal. Aku berharap, Allah menjadikan kami sebagai sepasang suami-istri melalui pernikahan yang penuh berkah. Aamiin...

:::::

Teruntukmu, duhai calon imamku sayang O:-)

Minggu, 11 Januari 2015

Antara Cinta dan Nafsu Syahwat

"Ketika cinta sangat dimuliakan dan diagung-agungkan, godaan syetan menyelinap dalam hati. Akibatnya, cinta dan hawa nafsu kian tak ada jarak. Nafsu syahwat telah memperalat cinta untuk berbuat maksiat. Kondisi ini mudah ditemui pada orang pacaran. Ungkapan cinta di awal hubungan, terutama bagi pria, cuma sebatas lips service untuk menutupi keinginannya menyalurkan hasrat seksual."

Sedikit kutipan dari buku "Boy vs Girl" karya Herliana Herman ini agaknya sesuai sekali dengan kondisi saat ini yang terbilang umum untuk dilakukan oleh setiap pasangan. Bukan apa-apa memang, orang bilang hal itu wajar. Tapi jika terus-menerus dilakukan, siapa yang dapat menjamin bahwa tidak akan ada hal yang lebih dan lebih lagi daripada sekedar "tempel bibir". Mungkin pertamanya hanya saling pandang, saling lempar senyum, saling lirik, saling sapa, saling pegangan, saling rangkulan, saling peluk, hingga saling cium. Ciumannya juga awalnya hanya di bagian luar. Akh, belum puas. Makin nempel lah tu bibir. Lama-lama, persis seperti anak burung minta disuapi induknya ~kedua bibir mulai menganga~ lalu mencoba mencicipi bagian bibir terdalam pasangannya. Belum puas juga, lidahnya keluar. Ditangkaplah kumpulan otot yg menjulur bak lidah bunglon siap nyaplok serangga atau lidah cicak siap nangkap nyamuk yang melintas-  oleh pasangannya. Sampai bersuara ceplak ceplok ciuut. XD
Sampai situ, hasrat pegang-pegang pun mulai berlebihan, nafas semakin menggebu. Tangannya... aishh... udah sampai mana ya itu? Hehehe...

Oke, stop. Sampai di situ saja. Ndak saya nanti dilaporkan ke meja hijau.

At least, apa sih yang bisa kita pelajari dari pembahasan di atas?

Ooh bukan.. Bukan itu... (hadeh.... mikirnya lempeng-lempeng aja ya, Sob).

Baik. Nggak usah ceramah panjang kali lebar, inilah beberapa hal yang dapat kita petik dari penjabaran di atas:

1. Batas antara cinta lawan jenis dengan hasrat seksual itu tipis banget. Ibarat membran semi permeabel (you know what i mean), dindingnya itu akan cukup mudah untuk ditembus.

2. Sekuat apapun seseorang menjaga diri dan hatinya, ia nggak akan kuat melawan nafsunya sendiri. Apalagi jika telah menerima berbagai stimuli. Ibaratnya, si stimulus tersebut adalah bisikan syetan.

3. Laki-laki cenderung masih mampu membedakan kebutuhan seks dengan main-main. Mereka bisa melakukan hubungan seks karena memang butuh pelampiasan atau sekedar "bermain".
Perempuan cenderung sulit untuk membedakan keduanya. Mungkin mereka bisa melakukannya untuk dirinya sendiri [raganya beraksi, pikirannya ke mana-mana], tapi tidak mudah bagi mereka untuk membedakan perlakuan seorang lelaki kepadanya.
So far sih begitu..

So, hal-hal apa saja yang dapat kita lakukan untuk mengatasi tiga masalah di atas?

1. Ingat Tuhan.
Ingatlah selalu bahwa Tuhan selalu mengawasi kita. Di mana pun kita berada, apapun yang kita rasa dan fikirkan, Tuhan pasti tahu. Tanpa perlu kita ungkapkan (baik dengan kata-kata maupun pertunjukan lain), Tuhan Mahatahu segalanya.

2. Ingat mimpi-mimpi kita.
Cita-cita yang kita khayal dan bangun sejak kecil lebih berarti daripada sekedar pelampiasan nafsu syahwat. Tunjukkan bahwa kita mampu menggapainya dan buatlah kedua orangtua dan keluarga besar kita bangga.

3. Kaji dan terus kaji ilmu-ilmu agama dan kehidupan. Pahami dengan baik, amalkan yang baik dan tinggalkan yang buruk. Hidup bersosial lebih asyik ketimbang hanya berduaan dengan yang ituuuuu saja. Membosankan bukan?

4. Syukuri dan hargai diri kita.
Kita terlahir "sempurna". Tubuh dan jiwa kita sangat berharga. Nominal berapapun tidak akan bisa membelinya seutuhnya. Raga kita milik Tuhan, jiwa kita pun demikian.
Jika kita memperlakukannya sia-sia, apa yang dapat kita gunakan untuk menggantinya saat Tuhan memintanya kembali?

Terakhir, urip kuwi mung mampir ngombe. Hidup itu hanya singgah untuk sekedar minum.
Berapa lama sih waktu yang kita gunakan untuk minum (sebelum kembung pastinya)? Sejam? Setahun? Seabad??
Tidak.. tidak sampai selama itu.
Durasi rata-rata manusia mampu meneguk minuman hingga nyaris kembung hanya kurang dari 5 menit. Bayangkan jika kita hidup hanya diberi waktu kurang dari 5 menit !

Sobatku semua...
Apalah arti "bercinta" kalau kita tidak dapatkan apa-apa darinya?
Ketika telah menikah secara resmi dan sah, baik di mata agama maupun negara, saat itu hati menjadi lega. Apapun aktivitas mesra yang kita lakukan bersama pasangan akan terasa ringan, tanpa beban rasa bersalah. In sya Allah, diberkahi.
Jadi, buat apa membuang masa muda yang masih ting-ting hanya demi pemuasan sesaat?

Semuanya kembali pada pribadi masing-masing.
Baca tulisan ini baik-baik dan renungkan...
Apa saja yang telah kaupersembahkan kepada Tuhan-mu?
Apa saja yang telah kausampaikan kepada kedua orangtua atau walimu?
Apakah selama ini kau telah membuat mereka bangga? Atau justru bersedih?

:::::::::::==================:::::::::::::

Akhir kata (untuk tulisan kali ini), semoga hal-hal yang saya sampaikan di sini dapat bermanfaat.
Jika ada kesalahan, sekecil apapun (apalagi jika besar), mohon dimaafkan.
Jika ada banyak faedah, berterimakasihlah kepada Tuhan, karena Dia telah memberimu kesempatan untuk membaca tulisan ini.

Semoga Allah meridhoi hal ini. Aamiin

Kamis, 08 Januari 2015

Jangan Buat Aku Jatuh Cinta

Jangan kau buat aku jatuh cinta
sebelum kutahu siapa yang kau sayangi

Jangan kau buat aku jatuh cinta
sebelum kutahu siapa yang kaucintai

Jangan buat aku jatuh cinta
sebelum kutahu siapa yang kauhormati

Jangan buat aku jatuh cinta
sebelum aku tahu siapa Tuhan-mu

Jangan buat aku jatuh cinta
sebelum kutahu siapa yang sangat kaudambakan 'tuk jadi kekasihmu

Jangan buat aku jatuh cinta
sebelum kutahu alasanmu tertarik padaku

Jangan buat ku jatuh cinta
sebelum kutahu semua tentangmu

Jangan

Jangan kau buat aku jatuh cinta

What do you think about this?

Just share......

Sebuah kisah dari seorang mahasiswa Indonesia:

Di suatu pagi, kami mendapat tugas untuk menjemput klien, beliau telah terbilang berusia senja. Beliau adalah seorang pengusaha asal Singapura yang berbicara dengan Bahasa Inggris logat Melayu.
Dalam perjalanan, beliau menceritakan pengalamannya kepada kami,"Your country is so rich!". Dalam hatiku,"Ah biasa banget denger kalimat itu". Tapi tunggu, beliau belum selesai berbicara. "Indonesia doesn't need the world, but the world needs Indonesia. Everything can be found here in Indonesia, you don't need the world."
Kemudian, lanjutnya,"Indonesia paru-paru dunia. Tebang saja hutan-hutan di Kalimantan, dunia pasti kacau. Singapore is nothing, we can't be rich without Indonesia. 500 ribu orang Indonesia berlibur ke Singapura tiap bulan. Bisa terbayang uang yang masuk ke kami. Apartemen-apartemen terbaru kami dibeli oleh orang-orang Indonesia, tidak peduli harga selangit, laku keras. Lihatlah RS kami, isinya orang Indonesia semua. Lalu, kalian tahu bagaimana kalapnya pemerintah kami ketika asap kebakaran hutan Indonesia masuk ke tempat kami? Sangat terasa. We are nothing! Kalian tahu kan kalau kemarin dunia krisis beras, termasuk di Singapura & Malaysia. Kalian di Indonesia dengan mudah dapat beras. Lihatlah negara kalian, air bersih di mana-mana, lihatlah negara kami, air bersih pun kami impor dari Malaysia. Saya ke Kalimantan pun dalam rangka bisnis, karena pasirnya mengandung permata. Terlihat glitter kalau ada matahari bersinar. Penambang jual cuma Rp 3rb/kg ke pabrik China, dari pabrik China jual kembali seharga Rp 30rb/kg. Kalian sadar tidak kalau negara-negara lain selalu takut mengembargo Indonesia? Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut kalian menjadi mandiri. Harusnya KALIANLAH YG MENGEMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Beli pangan dari petani-petani kita sendiri, beli tekstil garmen dari pabrik-pabrik sendiri. Tak perlu impor kalau bisa beli produk sendiri. Jika kalian bisa MANDIRI, bisa MENGEMBARGO DIRI SENDIRI,.... INDONESIA WILL RULE THE WORLD!"

***