Jumat, 13
Februari 2015, sekitar pukul 18.00 WIB, saya mengalami suatu hal yang saya
harap dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Kejadian yang entah
dikategorikan sebagai penjambretan, perampasan, pencurian, atau pencopetan
tersebut berlangsung sangat cepat dan benar-benar di luar dugaan saya. Saat itu
saya sedang mengendarai sepeda dalam perjalanan pulang dari bekerja di daerah
tenggara kota Yogyakarta menuju tempat tinggal di wilayah Umbulharjo. Dalam
perjalanan itu, saya sempat berhenti di simpang empat Veteran, tepatnya di sisi
timur RSI Hidayatullah karena lampu lalu lintas menyala merah. Tidak berapa
lama kemudian, lampu kembali hijau. Saya berbelok ke kanan, menuju arah XT
Square. Baru berjalan kurang dari 50 meter, seorang pengendara motor matic
mendekati saya dari sisi kanan. Semula saya kira ia menjadi sangat dekat karena
posisi saya yang sedikit ke tengah jalan demi menghindari beberapa lubang yang
mungkin ada di bawah kubangan air di tepi jalan yang terbentuk usai hujan
beberapa saat sebelumnya. Namun, dugaan saya meleset. Orang yang nampaknya
laki-laki itu dengan lincahnya menjulurkan tangan kiri dan mengambil barang
yang saya bungkus kresek oranye bertulisan Mutiara Mas Medika yang saya letakkan
di dalam keranjang sepeda. Dengan gerakan kilat, ia memindahkan barang bawaan
saya ke depan jok motornya, tepat ke atas sebuah ransel traveling yang cukup
besar, berwarna hitam-biru yang sepertinya kosong, yang diletakkan di antara
kedua kakinya. Saya sempat berteriak “Hei, woy! Maling! Pencuri!” sebelum pencuri
itu bergerak menjauh. Saya pun sempat meminta tolong kepada orang-orang di
sekitar saya, namun mungkin ucapan saya tidak terdengar jelas, sehingga mereka
diam saja dan hanya memandang saya. Tak mau kehilangan jejak, saya berusaha
keras untuk membaca plat nomor kendaraan dengan cara mengejarnya, tetapi pendar
lampu belakang motor nampaknya berhasil menutupi plat nomor motor yang mulai
dilajukan dengan kencang menuju keramaian jalan yang biasanya sepi, sehingga
saya tidak dapat melihat ke arah mana orang itu pergi. Masih ada persimpangan
setelah tempat kejadian perkara, yakni ke utara arah jalan Glagahsari dan ke
barat arah jalan Menteri Supeno, tapi saya tidak tahu ke arah mana orang itu
pergi. Saya sangat menyesali keteledoran saya hari itu, yakni dengan
memindahkan barang dalam plastik kresek oranye tersebut ke atas mantol yang
saya kenakan beberapa saat sebelumnya, padahal semula mantol itu sempat bertengger
di atas buntelan kresek oranye yang berisi sepasang kaus kaki putih bertepi
ungu (di dalam kresek putih) dan sebuah tas selempang coklat susu berhias
sepatu bertali di bagian depannya, dengan plisir rit coklat tua. Tas perempuan
kain semi kanvas tersebut berisi tiga buah ponsel, yakni sebuah ponsel Samsung
Galaxy Y duos GT-5312 berwarna putih dengan silicon case ungu beserta charger
putihnya, sebuah ponsel E-Touch Silver dengan silicon case kuning dan gantungan
tali kecil, dan sebuah ponsel E-Touch silver bersilicon case hijau muda. Saya
menyesal membawa ketiganya, sedangkan biasanya hanya maksimal dua buah. Selain
ponsel, ada sebuah pouch putih bertulisan “Laxing”, berisi sebuah buku tabungan
BRI a/n Triningsih Rahmawati, yang di dalamnya terselip sebuah kartu perpustakaan
kota Yogyakarta dan dua buah kartu member Karuma Swalayan dan Mirota Kampus a/n
Triningrum Kurniawati; sebuah flashdisk 4 GB bening dengan tali berwana biru
bertulisan WD Stor; sebuah gantungan kunci berbentuk lebah yang saya buat sendiri
seperti lambang Beetalk, tiga lembar Hansaplast jumbo; dan beberapa hal lain
yang tidak saya ingat sepenuhnya. Selain itu, ada sebuah sebuah dompet pouch
putih yang bergambar, bertulisan, dan berplisir rit merah, dengan dua kantong.
Kantong pertama berisi peralatan make up, meliputi bedak Marina (tinggal
sedikit), lipstik Viva merah muda (masih baru), sikat kecil pembersih gigi
dengan tangkai hijau muda, seamplop kertas wajah, dan sebuah puff bedak muka
yang masih terbungkus plastik. Sementara kantong di sebelahnya berisi sebuah
buklet informasi publik yang dikeluarkan oleh Mirota Kampus dan beberapa surat
penting seperti KTP, SIM C, KTM dan Kartu Perpustakaan UST, sebuah ATM BRI,
kartu Askes, kartu Flazz dari BCA, dan beberapa lembar kartu pasien dari JIH,
RS Mata dr. Yap, RSPAU Hardjolukito, RSI Hidayatullah, dan Puskesmas Umbulharjo,
semuanya a/n Triningsih Rahmawati.
Selain itu,
terdapat sebuah botol minum keluaran Tupperware berwana kuning kehijauan,
berukuran 330 ml; sepasang kaus tangan berwarna biru-hitam; sebuah kacamata
hitam bertulisan RB Space; sebuah kantong transparan keluaran Garuda Indonesia
yang berisi sebuah kacamata bening dengan frame dan tangkai hitam; dua potong
jilbab instan tebal dan sebuah pakaian batik berwarna coklat; sebuah jilbab
putih bertepi hitam; sebuah mantol plastik oranye-merah; sebuah mantol tas ransel
berwarna hitam; sebuah dompet koin bermotif batik berwarna coklat muda; dan
sebuah tisu gulung. Di bagian saku depan tas terdapat beberapa lembar uang
ribuan, sebuah kartu berlangganan reguler dari Dinas Perhubungan untuk pengguna
bus Trans Jogja; dan tiga buah kunci yang terangkai menjadi satu.
Barangkali Anda
terkejut membaca rincian barang yang saya sebut berada di dalam tas yang saya
bawa kala itu. Saya pun terkejut ketika menuliskannya dan tak habis pikir
mengapa pagi sebelum kejadian, saya membawa begitu banyak barang padahal tujuan
saya pagi itu hanya untuk bekerja. Apapun itu, hingga hari ini saya masih
berharap semua barang yang hilang dapat ditemukan dan kembali ke tangan saya
dalam keadaan utuh sama seperti ketika diambil oleh pencuri bermotor tersebut.
Untuk itu, saya meminta kesediaan semua pihak yang membaca tulisan panjang ini
untuk menyerahkan barang-barang yang saya sebutkan di atas bila mungkin Anda
melihat atau menemukannya. Jika mengalami kesulitan untuk mengantarkannya
langsung ke tempat tinggal saya, Anda dapat menitipkannya di kantor polisi
terdekat dengan lokasi Anda. Jika Anda telah menyerahkan barang temuan tersebut
ke kantor polisi, silakan kirim pesan singkat (sms) pemberitahuan kepada saya
di nomor 088802804360. Mohon maaf, saya tidak menerima panggilan telepon.
Terima kasih banyak telah meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini ^_^