Halaman

Selasa, 11 Agustus 2015

Berfikirlah Sebelum Berbicara!

Hari ini cuaca sangat cerah. Namun, entah mengapa saya merusak semuanya begitu saja.
Tak perlu berpanjang kata. Garis besarnya kurang lebih seperti ini:

Semalam (10/08/15) keponakanku sedikit demam. Ia tidur lebih awal, tetapi di sepertiga malam ia terbangun karena merasa mual. Paginya (11/08/15), keadaannya mulai membaik, tapi jelas terlihat bahwa ia sedang tidak sehat. Pagi itu semuanya dapat berjalan lancar -saya tidak berbicara apalagi bersikap kasar kepadanya. Namun, selepas adzan Dhuhur, saya menghancurkan semuanya.

Saat itu saya sedang menjemur peralatan makan dan memasak yang baru saja digunakan. Tidak terlalu banyak sih, tetapi suara anak itu yang berulang-ulang membuat saya mulai 'naik darah'. Semestinya saya bisa mengendalikan diri, terlebih anak itu sedang kurang sehat.

Saya ingat, saat itu keponakan saya memanggil nama saya lebih dari tiga kali, kemudian ia mendatangi saya. Ia masih memanggil nama saya meski telah menjumpai saya. Semestinya, saya bisa berpaling padanya, kemudian menjawabnya dengan lembut sembari tersenyum,"iya sayang, ada apa?"

Tapi apa yang saya lakukan???!
Saya justru berbicara tanpa tersenyum sedikitpun (meski tidak membentaknya).
Saya berkata,"R sudah lihat Tante kok masih panggil-panggil sih?"
Dia menjawab,"Lha kan Tante nggak denger.."
Saya menimpali,"Memangnya nggak lihat Tante baru apa?"
Dia diam.

Saat itu juga sebenarnya saya tersadar. Saya pernah mengajarinya untuk menyahut saat dipanggil, tetapi ironisnya saat itu saya tidak menjawab satupun panggilannya.
Saya pernah mengajarinya untuk segera mencari orang yang berulang kali kita panggil tetapi tidak jua menyahut, ironisnya siang itu saya mengabaikan kehadirannya.

Apa yang telah saya lakukan??

Saya sadar saya salah, tetapi saya terlalu gengsi untuk segera minta maaf di depan ayahnya yang sesaat setelah itu memilih menemani putrinya.

Semestinya saya segera mendatanginya dan meminta maaf padanya, tetapi saya justru pergi ke kamar lalu menulis catatan ini.

Baik! Akan segera saya lakukan setelah selesai menulis ini...

Tapi tidak! Saya harus melakukannya sebelum saya menerbitkan tulisan ini... Saya harap, sedikit cerita ini dapat menjadi bahan renungan bagi semua orang dewasa, terutama dan tidak terkecuali untuk saya sendiri.

Berfikirlah sebelum melakukan apapun, terlebih sebelum berbicara !