Halaman

Minggu, 30 Agustus 2015

Minggu, 23 Agustus 2015

[Re-post] Maher Zain - Number One For Me | Official Music Video








Saat mendengar lagu ini, saya kembali teringat pada ibu saya. Beliau tidak pernah kurang dalam memberikan perhatian dan seluruh kasih-sayang pada putri-putrinya. Setiap pagi, sarapan telah tersedia bahkan sebelum kami siap untuk berangkat ke sekolah. Saat kami akan berangkat ke sekolah, ibu hampir selalu mempersiapkan bekal makan siang. Sayangnya, selera makan saya saat itu sangat rendah. Jadi, seenak apapun makanannya, saya kesulitan untuk memakannya apalagi jika harus menghabiskannya di luar rumah. Di depan teman-teman pun, saya mendadak merasa kenyang. Hasilnya, setengah dari isi kotak makan saya pasti akan kembali ke tangan ibu pada sore harinya. Saya sangat sedih karena hal itu sering terjadi. Akhirnya, bertahun-tahun kemudian, saya memutuskan untuk menghabiskan makanan yang masih tersisa di dalam kotak makan itu sepulang sekolah. Ibu saya tahu bahwa bekal makan siang saya tidak habis, dan hal itu pasti membuatnya sedih. Jadi, ibu selalu berpesan agar saya memastikan baik-baik apakah makanan tersebut masih layak untuk dimakan atau tidak. Tentu, beliau tidak ingin putrinya jatuh sakit karena memakan makanan basi.

Kini, saya sangat merindukan hal-hal seperti itu. Saya rindu kehadiran ibu, saya rindu senyum ibu, pelukan ibu, dan tentunya masakan ibu. Seringkali saya berharap beliau ada di sini, membawakan bekal makan yang lezat kala saya berangkat kerja atau kuliah. Dan kini, saya pasti dapat menghabiskannya. Tidak ada lagi rasa malu ataupun rasa "ra kolu". Bahkan, saya akan membawa pulang kotak makan itu dalam keadaan bersih, dan menunjukkannya kepada ibu dengan rasa bangga. Saya akan melakukannya dengan senang hati karena saya dapat membuat beliau lebih banyak tersenyum. Namun tentu saja hal itu hanya khayalan karena kini beliau telah tiada.



Lagu ini mengingatkanku akan betapa pentingnya sosok ibu. Kehadiran beliau selalu kurindu.

That's why I like this song very much :)

Selasa, 11 Agustus 2015

Berfikirlah Sebelum Berbicara!

Hari ini cuaca sangat cerah. Namun, entah mengapa saya merusak semuanya begitu saja.
Tak perlu berpanjang kata. Garis besarnya kurang lebih seperti ini:

Semalam (10/08/15) keponakanku sedikit demam. Ia tidur lebih awal, tetapi di sepertiga malam ia terbangun karena merasa mual. Paginya (11/08/15), keadaannya mulai membaik, tapi jelas terlihat bahwa ia sedang tidak sehat. Pagi itu semuanya dapat berjalan lancar -saya tidak berbicara apalagi bersikap kasar kepadanya. Namun, selepas adzan Dhuhur, saya menghancurkan semuanya.

Saat itu saya sedang menjemur peralatan makan dan memasak yang baru saja digunakan. Tidak terlalu banyak sih, tetapi suara anak itu yang berulang-ulang membuat saya mulai 'naik darah'. Semestinya saya bisa mengendalikan diri, terlebih anak itu sedang kurang sehat.

Saya ingat, saat itu keponakan saya memanggil nama saya lebih dari tiga kali, kemudian ia mendatangi saya. Ia masih memanggil nama saya meski telah menjumpai saya. Semestinya, saya bisa berpaling padanya, kemudian menjawabnya dengan lembut sembari tersenyum,"iya sayang, ada apa?"

Tapi apa yang saya lakukan???!
Saya justru berbicara tanpa tersenyum sedikitpun (meski tidak membentaknya).
Saya berkata,"R sudah lihat Tante kok masih panggil-panggil sih?"
Dia menjawab,"Lha kan Tante nggak denger.."
Saya menimpali,"Memangnya nggak lihat Tante baru apa?"
Dia diam.

Saat itu juga sebenarnya saya tersadar. Saya pernah mengajarinya untuk menyahut saat dipanggil, tetapi ironisnya saat itu saya tidak menjawab satupun panggilannya.
Saya pernah mengajarinya untuk segera mencari orang yang berulang kali kita panggil tetapi tidak jua menyahut, ironisnya siang itu saya mengabaikan kehadirannya.

Apa yang telah saya lakukan??

Saya sadar saya salah, tetapi saya terlalu gengsi untuk segera minta maaf di depan ayahnya yang sesaat setelah itu memilih menemani putrinya.

Semestinya saya segera mendatanginya dan meminta maaf padanya, tetapi saya justru pergi ke kamar lalu menulis catatan ini.

Baik! Akan segera saya lakukan setelah selesai menulis ini...

Tapi tidak! Saya harus melakukannya sebelum saya menerbitkan tulisan ini... Saya harap, sedikit cerita ini dapat menjadi bahan renungan bagi semua orang dewasa, terutama dan tidak terkecuali untuk saya sendiri.

Berfikirlah sebelum melakukan apapun, terlebih sebelum berbicara !