Halaman

Minggu, 26 Oktober 2014

Ketika Kerinduan Berbalas, ...

Aku memikirkannya hampir seharian tanpa berani menyapanya. Tak kusangka, menjelang malam ia menyapaku.

Subhaanallah.... inikah cinta yang sesungguhnya?

Senin, 20 Oktober 2014

Makna Hidup

Guys, semua hal yang terjadi dalam hidup ini ada alasannya..

Pandai-pandailah memaknai suatu perkara yang menimpamu, entah itu perkara baik atau perkara buruk.

Hal yang menurut kita baik, belum tentu baik bagi kita. Sebaliknya, hal yang kita anggap buruk, belum tentu berakhir buruk bagi kita.

Semuanya kembali pada bagaimana hati, akal, dan raga kita bekerja, serta bagaimana kita memberinya makna.

Ingat, ada pelajaran di balik semua yang terjadi..

Jadi kawan, teruslah berfikir positif sepanjang hari ^-^

Terkadang Kita Menang, Kali Lain Kita (Tidak) Kalah

Manusia kerap beranggapan bahwa hidup adalah sebuah pertarungan. Pertarungan dapat diartikan sebagai sebuah pertandingan antara dua orang atau lebih yang berselisih atas suatu hal, yakni dengan menganggap diri sendiri atau kelompoknya yang terhebat, sehingga yakin akan menang, dan mereka menyepakati satu atau beberapa hal. Dalam pertarungan seperti itu, jelas akan ada pihak yang menang dan pihak yang kalah. Siapa kuat dan cerdas, dia yang menang.

Namun, hidup bukanlah perkara menang-kalah semata, melainkan bagaimana kita memaknai kedua hal tersebut. Jika menang, sebaiknya kita bersyukur karena tanpa kehendak Tuhan, kita akan kalah. Jika kalah, kita harus melakukan evaluasi, mencari tahu hal apa yang membuat kita kalah. Kita harus mempelajarinya dengan baik dan berlatih kembali, agar kelak ketika harus menghadapi hal yang sama, kita dapat mengatasinya dengan baik.
Banyak contoh dalam kehidupan ini yang menggambarkan "pertarungan" dengan orang lain. Hal ini lebih sering disebut sebagai persaingan. Kita dapat menganggapnya sebagai "bumbu kehidupan".
Namun, "pertarungan" yang sesungguhnya adalah pertarungan antara sisi buruk kita dengan sisi baik kita. Ya, "internal fighting" !

Kita dikatakan kalah jika kita tak mampu mengatasi gejolak dalam diri kita sendiri. Sebaliknya, kita akan menjadi pemenang jika kita mampu mengatasi persoalan diri sendiri dengan cara belajar dari "kekalahan-kekalahan" di masa lampau.

So...

"Sometimes we win, sometimes we (not) lose, but learn."

Jumat, 17 Oktober 2014

Jalan Hidupku, Pilihanku

Ketika hidup terasa penat, baru kusadari ada begitu banyak hal yg terlewati.
Terikat masa lalu, terobsesi masa depan, aku justru terbelenggu di masa kini.

Aku ingat telah melihat, mendengar, mengucap, menulis, dan melakukan serta merasakan berbagai hal.. tapi saat menyadarinya, seolah kejadian2 itu baru saja berlalu..

Ingatan akan perasaanku semakin memendek..

Terkadang, ingin kukembali ke masa lalu dan menebus semua kesalahanku dan melakukan hal2 menarik &  berguna yg blm pernah kulakukan.
Tapi ku hidup di masa kini, yg terus berjalan cepat mendahuluiku..
Meski banyak hal buruk yg kulakukan di masa lalu, setidaknya sekarang aku mengerti. Aku bisa belajar dari semua itu...

Jalan hidupku, pilihanku.

Pelajaran Ada di Semua Tempat

Petang ini saya mengerti. Saya mendapat pelajaran baru yang berharga. Seulas senyum itu benar-benar mampu mengubah masa depan.

:::

Ceritanya begini...

Hari ini, saya ke kampus menggunakan bus. Singkat kata, pulangnya juga naik bus.
Saya duduk manis menunggu jalur 2B bersama bbrp calon penumpang lain. Suasana msh adem ayem, hingga datang seorang laki2 bergamis dengan sebuah pin berbentuk lambang POLRI tersemat di dadanya.
Sejenak kmdn, ia mendapat panggilan telepon dari seseorang. Ia membicarakan masalah DPO, FPI, & D88. Saat itu ia sedang sibuk menyeka keringat di wajah dan lehernya.
Tak berapa lama kenudian, saya menangkap sebuah tisu bekas pakai meluncur di dekat kakinya. Saya ragu apakah itu miliknya atau tisu yg tertiup angin.
Bbrp saat berlalu... lama2 gemes juga. Saya ingat sebelum brgkt ke kampus, sy sempat menyelipkan sebuah kapas yg baru sebentar saya gunakan.
Saya ambil kapas itu lalu bergegas memungut tisu bekas pakai di lantai halte, di dpn banyak orang. Setelah itu saya masukkan ke tempat sampah. Orang-orang menatap heran sekaligus tersenyum, tetapi sayang, mimik jengkel msh membekas di wajah saya. Saya sama sekali tidak bermuka datar apalagi tersenyum.

Setelah membersihkan tangan dengan gel pembersih, saya baru tersadar.
Apa yg tlh saya lakukan? Kenapa saya marah pada mereka?
Mungkin saja mereka juga ingin melakukan hal yang sama, tapi bisa jadi mereka tidak punya kertas atau apa saja utk memungut sampah itu. Atau mgkn juga mereka tidak membawa tisu basah atau hand sanitizer. Kenapa saya turut menimpakan kekesalan kepada mereka?

Betapa sombongnya
.
.
.