Sore hari sepulang bekerja, saya putuskan untuk menggunakan transportasi massal, bus Trans Jogja. Saya diantar oleh atasan saya menggunakan sepeda motor dari tempat kerja (di kaki selatan jembatan layang Janti) menuju sebuah halte di bawah jembatan Janti.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya bus yang saya tunggu tiba. Saat masuk, persoalan pertama muncul. Bus terlalu penuh, saya berdiri tepat di sisi pintu. Seorang bapak yang membawa tas ransel besar di depan saya, tidak beranjak sedikitpun meski ransel berada di dekat kakinya. Bapak itu berpegangan pada tiang bus di sisi pintu. Saya tidak dapat menjangkau satupun tiang apalagi tali yang tergantung di dalam bus. Karena pramugara terus berteriak meminta penumpang bergeser ke tengah, terpaksa saya mendesak beberapa orang pria yang berdiri di tengah ruangan bus. Itu saya lakukan agar saya tidak terjatuh saat pintu bus dibuka pada halte berikutnya. *maaf...*
Bus terus melaju dari satu halte ke halte lain. Sekitar lima menit kemudian, bus sampai di halte Banguntapan (utara PLN Gedong Kuning). Beberapa penumpang turun, beberapa lainnya naik dari halte. Bus makin penuh. Saat itu saya baru tersadar --selain saya, hanya ada seorang wanita yang berdiri berdesakan di antara puluhan penumpang yang sebagian besar pria. Saya sih maklum saat melihat beberapa di antara mereka adalah orang tua dengan barang bawaan yang cukup besar, memilih untuk tetap duduk. Namun, yang saya heran... kok ya ada seorang pemuda sekitar 15-16 tahun, tak membawa apa-apa (mungkin selain dompet yang ada di saku celana pendeknya), duduk manis seolah tanpa rasa malu dan bersalah, sementara ada dua orang wanita (saya berada tepat di depannya) berdiri bergelantungan, berdesakan, padahal jelas-jelas kami membawa barang. Saya menyandang tas ransel di depan, sementara helm terpaksa saya kenakan demi kenyamanan.
Berulang kali saya melirik dan akhirnya menatap anak itu, tapi ia sama sekali tak merespon. Ingin sekali saya menegurnya, tapi saya urungkan. Saya berfikir ulang... kalau saya bertukar tempat dengannya, saya terpaksa duduk dihimpit dua orang pria setengah baya. Tapi, kalau saya tidak menegurnya, mau tak mau saya harus bertahan berdiri di tengah beberapa orang pria hingga pemberhentian terakhir (halte pos terminal Giwangan). Hmmm.... akhirnya, dengan segenap keyakinan dan rasa bersalah, saya memutuskan untuk memilih yang ke-2. Biar saja, toh sebentar lagi sampai. Benar. Sekitar sepuluh menit kemudian, sampailah kami di halte pos. Saya bersyukur sekali, akhirnya dapat bergerak dengan lega.
Permasalahan ke-2 muncul tatkala saya menginjakkan kaki di halte pos. Halte memang terlihat lengang, hanya ada sekitar sepuluh orang calon penumpang di dalamnya. Tiga di antaranya adalah WNA, yang kemudian saya ketahui berasal dari Ceko. Menurut pendengaran saya, mereka telah cukup lama menunggu bus di dalam halte. Namun, bus yang mereka tunggu tampaknya belum akan diberangkatkan.
Lima menit berlalu.. Belum ada tanda-tanda bus akan segera berangkat.
Sepuluh menit... Masih sama.
15, 20, hingga hampir 30 menit kemudian, seorang petugas halte bangkit -mendekat ke pintu untuk ke-sekian kalinya- dan berteriak "3B! Persiapan yang akan naik 3B arah Wirosaban, Museum Perjuangan, Jokteng wetan, Samsat. Persiapan. 3B."
Serta-merta tiga turis asing tadi bergerak mendekat, lalu bertanya,"3B? Is that 3B?"
Petugas pun mengangguk seraya menjawab,"Yes, 3B." Lalu, mereka masuk bus beberapa saat setelah saya.
Bus tampak lengang -hanya sekitar sepuluh orang penumpang di dalamnya. Saya duduk di seberang pintu (menghadap pintu). Seorang ibu yang berjualan di terminal duduk di sisi kiri saya, ibu lain duduk di sebelahnya. Tiga wanita WNA duduk di bagian depan, di sisi kiri pengemudi. Saya lemparkan pandangan ke seluruh penjuru dan saya temukan anak laki-laki yang tadi duduk di dekat saya sementara saya berdiri di dalam bus yang membawa saya ke terminal, duduk bersama seorang teman yang nampaknya seusia dengannya. Saya perhatikan baik-baik. Kali ini anak itu tampak merasa bersalah. Entah mengapa. *Kenapa nggak dari tadi, Bung*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar