Irviandari Alestya Gusman
Irviandari Alestya Gusman, sarjana termuda yang diwisuda di
Tuft University, Massachusetts, Amerika Serikat, Mei 2013 lalu. Putri
pertama pasangan Ketua DPD RI Irman Gusman dan Liestyana Rizal, ini juga
menggondol gelar sarjana dengan predikat cumlaude atau lulus dengan
sangat memuaskan.
Irviandari diapit ayah dan ibunya, Irman Gusman dan Listyana
Andari -sapaan akrab Irviandari- lulus pada usia
19 tahun 7 bulan. 19 Mei 2013 silam, selain diwisuda sebagai
sarjana termuda, Andari juga memperoleh predikat cumlaude
dengan nilai IPK 3,63 dari kampus Tufts
University di Kota Medford. Tufts University, tempat Andari berkuliah, merupakan salah satu
universitas terkemuka di Amerika Serikat. Dari kampus ini pula sejumlah
tokoh nasional tanah air pernah mengenyam pendidikan. Sebut saja mantan
Menteri BUMN Syofyan Djalil, mantan Menteri Luar Negeri Hasan Wirajuda,
dan mantan Deputi Senior Gubernur BI Anwar Nasution.
Andari, kelahiran Jakarta 20 September 1993, telah empat tahun
bermukim di Amerika. Sejak bersekolah di Jakarta, Andari
selalu memperlihatkan prestasi cemerlang. Mulai dari kelas 1 SD hingga
kelas 3 SMP, dia tidak pernah keluar dari tiga besar terbaik sekolah,
dan sering menjadi juara di kelasnya.
Karena prestasinya, Dr. Chris, guru berkebangsaan Amerika di Sekolah
Global, menyarankan Andari untuk melanjutkan pendidikan ke Bard College at Simon
Rock di Great Barrington, Massachussetts. Bard College adalah
satu-satunya early college dan yang terbaik di Amerika dan setara dengan universitas.
Karena saat itu usianya masih 14 tahun, kedua orangtua Andari belum rela melepasnya.
Tahun 2009, setelah menerima rapor kelas X (kelas 1
SMA), Dr. Chris kembali menyarankan Andari mengajukan lamaran ke Bard
College dengan disertai rekomendasi dari Sekolah Global. Kali ini Irman
dan istrinya, Liestyana, bersedia melepas putri mereka. Hasilnya
mengejutkan, Andari yang masih berusia 15 tahun diterima untuk mulai kuliah di
college tersebut.
Bard College mempunyai sistem pendidikan khusus yang disebut early college,
menerima mahasiswa dari anak-anak dengan kecerdasan di atas rata-rata,
tanpa mereka perlu menamatkan SMA. Bard College biasanya menerima siswa
kelas 11 dan bisa juga dari kelas 10 dengan nilai rapor tinggi dan hasil
tes yang baik. Andari diterima setelah mengajukan aplikasi dan
mengikuti tes wawancara melalui telepon.
Setelah diterima di Bard College, Andari semula mengaku agak ragu berangkat ke AS. Namun, karena motivasi orangtua, akhirnya Andari
mantap melanjutkan pendidikan ke AS. Dia mengikuti jejak ayahnya yang
memperoleh gelar MBA dari School of Business Universitas Bridgeport,
Connecticut.
Andari memulai kuliah sebagai mahasiswa paling muda di Bard College
at Simons Rock yang terletak di kota kecil Great Barrington, sekitar
tiga jam perjalanan dari New York.
Biaya pendidikan di Simons Rock relatif tergantung prestasi belajar
mahasiswa. Karena Andari berprestasi dengan IP rata-rata 3,9, ia
mendapatkan full beasiswa Du Bois Scholarship dari college tersebut.
Dalam waktu dua tahun atau empat semester, Andari meraih gelar AA
(associate of art) dengan predikat distinction (sangat memuaskan).
Dengan prestasi tersebut, Andari dapat meneruskan ke program sarjana
dengan melanjutkan dua tahun lagi atau transfer ke universitas lain yang
dia inginkan.
Setelah wisuda gelar AA pada Juni 2011, Andari mengikuti tes dan
diterima di lima universitas ternama, namun ia memilih transfer ke Tufts
University di Medford, kota satelit Boston, Massachusetts. Di sana ia
mengambil program double degree untuk bidang sosiologi dan women study.
Setelah empat tahun belajar di Amerika, Andari sementara waktu memilih pulang kembali ke Indonesia.
”Saya ingin berkumpul dulu dengan keluarga,” katanya. Namun hanya
sepekan karena ia akan balik ke Amerika dan berencana bekerja di
sebuah perusahaan konsultan manajemen.
”Harus ada pengalaman kerja dulu untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi,” katanya. (sumber: batampos.co.id)
Sosok
pembawaannya tenang dan bicaranya lugas, jelas, serta penuh percaya
diri. Ia juga mampu menjelaskan suatu hal dengan detail, padat, dan
berisi.
Siapa sangka sosok ini masih tergolong ABG karena dia baru berusia 17 tahun. Dia adalah Hartadinata Harianto.
Pemuda kelahiran Sidney, 21 April 1994 yang kini tinggal di New York,
Amerika Serikat ini pernah dinobatkan menjadi WNI peraih IPK sempurna
yakni 4.0 di Bard High School Early College (BHSEC), Sekolah setingkat
SMA di New York AS yang merupakan sekolah favorit dan menerapkan sistem
akselerasi atau percepatan. Dana operasional sekolah ini dibantu oleh Bill
dan Melinda Gates Foundation.
Hartadinata menjadi satu dari 150 siswa yang berhasil mengenyam bangku sekolah bergengsi bagi anak-anak jenius. Ia adalah anak Indonesia satu-satunya yang berhasil menyisihkan 8.000 orang dari seluruh dunia yang mendaftar di BHSEC.
Hartadinata menjadi satu dari 150 siswa yang berhasil mengenyam bangku sekolah bergengsi bagi anak-anak jenius. Ia adalah anak Indonesia satu-satunya yang berhasil menyisihkan 8.000 orang dari seluruh dunia yang mendaftar di BHSEC.
Perjuangan Hartadinata mengenyam predikat sebagai siswa BHSEC
tentu tidak mudah. Penerimaan didasarkan pada nilai, ujian esay, dan
matematika. Lulusan dari BHSEC umumnya bisa mentransfer 60 kredit mereka ke
perguruan tinggi atau universitas. Mereka bisa meraih gelar sarjana
dalam dua tahun berikutnya, atau terjadi percepatan waktu dua tahun.
Hartadinata yang pernah menimba ilmu di bangku SD Ciputra Surabaya itu, punya segudang prestasi akademik dan non akademik. Pada tahun 2006, Hartadinata meraih prestasi Math Academic
Excellence. Tahun 2007 menerima penghargaan Academic Gold Honor Roll,
yang diterimanya kembali pada tahun berikutnya.
Di bidang matematika, Hartadinata kembali meraih prestasi academic
excellence for mathematics tahun 2008. Pada tahun yang sama, ia masuk dalam
jajaran dua persen paling top secara nasional untuk tes English
Language Arts (ELA Examinations). Ia juga menerima President’s Education Award’s Program (Geoge W
Bush).
Pencapaian prestasi gemilang dari putra bangsa ini membuatnya
memperoleh penghargaan Ambassador Awards for Excellence dari Duta Besar
Indonesia di Washington DC pada Desember 2011. Selain itu, ia mendapat apresiasi dua penghargaan dari Museum Rekor
Indonesia (Muri) atas prestasinya sebagai WNI peraih GPA 4.0 dan
sebagai motivator termuda.
“Untuk kategori motivator termuda, dalam catatan kami di MURI,
motivator pendidikan rata-rata berada di usia diatas 30 tahun, sedangkan
Hartadinata baru 17 tahun, dan sudah memberikan motivasi di puluhan
sekolah di Indonesia. Sedangkan kategori kedua, anak tersebut merupakan
anak Indonesia pertama yang mendapatkan IPK tertinggi 4.00 di BHSEC,” ujar General Manager MURI. Paulus Pangka.
Meski tengah sibuk menimba ilmu di negeri orang, Harta tak melupakan negerinya.
“Saya tetap cinta negeri saya, Indonesia. Indonesia is so special for me,” ungkap Hartadinata (20/2).
Rasa cinta itulah yang mendorong Harta, demikian dia biasa disapa,
untuk berbagi ilmu, pengalaman dan motivasi, khususnya kepada para
pelajar di Indonesia. Sejumlah sekolah di beberapa kota telah dan akan dia kunjungi,
seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Solo. Dari perjalanan itulah dia mendapat
kesan bahwa generasi muda, khususnya para pelajar Indonesia memiliki
potensi-potensi luar biasa.
“Saya melihat passion dan semangat para pelajar Indonesia sangat
besar. Mereka hanya butuh dorongan dan motivasi dari orang-orang sekitar
seperti orangtua dan guru dan juga sistem yang bagus,” jelas dia.
Bagi Hartadinata, menjadi seorang motivator adalah sebuah panggilan
jiwa. Ia mengaku senang jika bisa memberi semangat, motivasi, dan
inspirasi bagi orang lain. Ia pun tidak membeda-bedakan kepada siapa
dia berbagi ilmu dan pengalaman. Dia mengaku senang dan bahagia dengan
penerimaan orang-orang di Indonesia.
Selama dua pekan di Indonesia, dia hanya bisa mengunjungi beberapa
kota saja. Namun dia bertekad akan kembali lagi ke Indonesia lagi jika
liburannya lebih panjang. Tidak hanya di kota, dia pun akan melakukan
kunjungan ke daerah terpencil dan pelosok-pelosok. Rasa capek dan lelah, itu sudah pasti katanya. Namun putra sulung
dari pasangan Tjandra Harianto dan Yudith Martin ini mengaku senang dan
menikmati.
Tjandra Harianto berjanji bahwa anaknya, setelah menjadi dokter, akan
kembali ke Indonesia, dan akan mengabdi memajukan Indonesia. “Sebab walaupun Hartadinata lama di New York, dia masih anak Indonesia. Karena Indonesia adalah tanah tumpah darah kami,” ujarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar