Halaman

Kamis, 12 Desember 2013

Deretan Pemuda-Pemudi Indonesia Berprestasi (Random)

Irviandari Alestya Gusman

Irviandari Alestya Gusman, sarjana termuda yang diwisuda di Tuft University, Massachusetts, Amerika Serikat, Mei 2013 lalu. Putri pertama pasangan Ketua DPD RI Irman Gusman dan Liestyana Rizal, ini juga menggondol gelar sarjana dengan predikat cumlaude atau lulus dengan sangat memuaskan.
Irviandari diapit ayah dan ibunya, Irman Gusman dan Listyana.
Irviandari diapit ayah dan ibunya, Irman Gusman dan Listyana

Andari -sapaan akrab Irviandari- lulus pada usia 19 tahun 7 bulan. 19 Mei 2013 silam, selain diwisuda sebagai sarjana termuda, Andari juga memperoleh predikat cumlaude dengan nilai IPK 3,63 dari kampus Tufts University di Kota Medford. Tufts University, tempat Andari berkuliah, merupakan salah satu universitas terkemuka di Amerika Serikat. Dari kampus ini pula sejumlah tokoh nasional tanah air pernah mengenyam pendidikan. Sebut saja mantan Menteri BUMN Syofyan Djalil, mantan Menteri Luar Negeri Hasan Wirajuda, dan mantan Deputi Senior Gubernur BI Anwar Nasution.

Andari, kelahiran Jakarta 20 September 1993, telah empat tahun bermukim di Amerika. Sejak bersekolah di Jakarta, Andari selalu memperlihatkan prestasi cemerlang. Mulai dari kelas 1 SD hingga kelas 3 SMP, dia tidak pernah keluar dari tiga besar terbaik sekolah, dan sering menjadi juara di kelasnya.

Karena prestasinya, Dr. Chris, guru berkebangsaan Amerika di Sekolah Global, menyarankan Andari untuk melanjutkan pendidikan ke Bard College at Simon Rock di Great Barrington, Massachussetts. Bard College adalah satu-satunya early college dan yang terbaik di Amerika dan setara dengan universitas.

Karena saat itu usianya masih 14 tahun, kedua orangtua Andari belum rela melepasnya.
Tahun 2009, setelah menerima rapor kelas X (kelas 1 SMA), Dr. Chris kembali menyarankan Andari mengajukan lamaran ke Bard College dengan disertai rekomendasi dari Sekolah Global. Kali ini Irman dan istrinya, Liestyana, bersedia melepas putri mereka. Hasilnya mengejutkan, Andari yang masih berusia 15 tahun diterima untuk mulai kuliah di college tersebut.
Bard College mempunyai sistem pendidikan khusus yang disebut early college, menerima mahasiswa dari anak-anak dengan kecerdasan di atas rata-rata, tanpa mereka perlu menamatkan SMA. Bard College biasanya menerima siswa kelas 11 dan bisa juga dari kelas 10 dengan nilai rapor tinggi dan hasil tes yang baik. Andari diterima setelah mengajukan aplikasi dan mengikuti tes wawancara melalui telepon.

Setelah diterima di Bard College, Andari semula mengaku agak ragu berangkat ke AS. Namun, karena motivasi orangtua, akhirnya Andari mantap melanjutkan pendidikan ke AS. Dia mengikuti jejak ayahnya yang memperoleh gelar MBA dari School of Business Universitas Bridgeport, Connecticut.

Andari memulai kuliah sebagai mahasiswa paling muda di Bard College at Simons Rock yang terletak di kota kecil Great Barrington, sekitar tiga jam perjalanan dari New York.
Biaya pendidikan di Simons Rock relatif tergantung prestasi belajar mahasiswa. Karena Andari berprestasi dengan IP rata-rata 3,9, ia mendapatkan full beasiswa Du Bois Scholarship dari college tersebut.

Dalam waktu dua tahun atau empat semester, Andari meraih gelar AA (associate of art) dengan predikat distinction (sangat memuaskan). Dengan prestasi tersebut, Andari dapat meneruskan ke program sarjana dengan melanjutkan dua tahun lagi atau transfer ke universitas lain yang dia inginkan.

Setelah wisuda gelar AA pada Juni 2011, Andari mengikuti tes dan diterima di lima universitas ternama, namun ia memilih transfer ke Tufts University di Medford, kota satelit Boston, Massachusetts. Di sana ia mengambil program double degree untuk bidang sosiologi dan women study.

Setelah empat tahun belajar di Amerika, Andari sementara waktu memilih pulang kembali ke Indonesia.
”Saya ingin berkumpul dulu dengan keluarga,” katanya. Namun hanya sepekan karena ia akan balik ke Amerika dan berencana bekerja di sebuah perusahaan konsultan manajemen.
”Harus ada pengalaman kerja dulu untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi,” katanya. (sumber: batampos.co.id)



Hartadinata Harianto

hartadinata harianto di indonesiaproud wordpress com 
Sosok pembawaannya tenang dan bicaranya lugas, jelas, serta penuh percaya diri. Ia juga mampu menjelaskan suatu hal dengan detail, padat, dan berisi.
Siapa sangka sosok ini masih tergolong ABG karena dia baru berusia 17 tahun. Dia adalah Hartadinata Harianto.
Pemuda kelahiran Sidney, 21 April 1994 yang kini tinggal di New York, Amerika Serikat ini pernah dinobatkan menjadi WNI peraih IPK sempurna yakni 4.0 di Bard High School Early College (BHSEC), Sekolah setingkat SMA di New York AS yang merupakan sekolah favorit dan menerapkan sistem akselerasi atau percepatan. Dana operasional sekolah ini dibantu oleh Bill dan Melinda Gates Foundation.

Hartadinata menjadi satu dari 150 siswa yang berhasil mengenyam bangku sekolah bergengsi bagi anak-anak jenius. Ia adalah anak Indonesia satu-satunya yang berhasil menyisihkan 8.000 orang dari seluruh dunia yang mendaftar di BHSEC.

Perjuangan Hartadinata mengenyam predikat sebagai siswa BHSEC tentu tidak mudah. Penerimaan didasarkan pada nilai, ujian esay, dan matematika. Lulusan dari BHSEC umumnya bisa mentransfer 60 kredit mereka ke perguruan tinggi atau universitas. Mereka bisa meraih gelar sarjana dalam dua tahun berikutnya, atau terjadi percepatan waktu dua tahun.

Hartadinata yang pernah menimba ilmu di bangku SD Ciputra Surabaya itu, punya segudang prestasi akademik dan non akademik. Pada tahun 2006, Hartadinata meraih prestasi Math Academic Excellence. Tahun 2007 menerima penghargaan Academic Gold Honor Roll, yang diterimanya kembali pada tahun berikutnya.

Di bidang matematika, Hartadinata kembali meraih prestasi academic excellence for mathematics tahun 2008. Pada tahun yang sama, ia masuk dalam jajaran dua persen paling top secara nasional untuk tes English Language Arts (ELA Examinations). Ia juga menerima President’s Education Award’s Program (Geoge W Bush).

Pencapaian prestasi gemilang dari putra bangsa ini membuatnya memperoleh penghargaan Ambassador Awards for Excellence dari Duta Besar Indonesia di Washington DC pada Desember 2011. Selain itu, ia mendapat apresiasi dua penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (Muri) atas prestasinya sebagai WNI peraih GPA 4.0 dan sebagai motivator termuda.

“Untuk kategori motivator termuda, dalam catatan kami di MURI, motivator pendidikan rata-rata berada di usia diatas 30 tahun, sedangkan Hartadinata baru 17 tahun, dan sudah memberikan motivasi di puluhan sekolah di Indonesia. Sedangkan kategori kedua, anak tersebut merupakan anak Indonesia pertama yang mendapatkan IPK tertinggi 4.00 di BHSEC,” ujar General Manager MURI. Paulus Pangka.
 
Meski tengah sibuk menimba ilmu di negeri orang, Harta tak melupakan negerinya.
“Saya tetap cinta negeri saya, Indonesia. Indonesia is so special for me,” ungkap Hartadinata (20/2).

Rasa cinta itulah yang mendorong Harta, demikian dia biasa disapa, untuk berbagi ilmu, pengalaman dan motivasi, khususnya kepada para pelajar di Indonesia. Sejumlah sekolah di beberapa kota telah dan akan dia kunjungi, seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Solo. Dari perjalanan itulah dia mendapat kesan bahwa generasi muda, khususnya para pelajar Indonesia memiliki potensi-potensi luar biasa.

“Saya melihat passion dan semangat para pelajar Indonesia sangat besar. Mereka hanya butuh dorongan dan motivasi dari orang-orang sekitar seperti orangtua dan guru dan juga sistem yang bagus,” jelas dia.

Bagi Hartadinata, menjadi seorang motivator adalah sebuah panggilan jiwa. Ia mengaku senang jika bisa memberi semangat, motivasi, dan inspirasi bagi orang lain. Ia pun tidak membeda-bedakan kepada siapa dia berbagi ilmu dan pengalaman. Dia mengaku senang dan bahagia dengan penerimaan orang-orang di Indonesia.

Selama dua pekan di Indonesia, dia hanya bisa mengunjungi beberapa kota saja. Namun dia bertekad akan kembali lagi ke Indonesia lagi jika liburannya lebih panjang. Tidak hanya di kota, dia pun akan melakukan kunjungan ke daerah terpencil dan pelosok-pelosok. Rasa capek dan lelah, itu sudah pasti katanya. Namun putra sulung dari pasangan Tjandra Harianto dan Yudith Martin ini mengaku senang dan menikmati.

Tjandra Harianto berjanji bahwa anaknya, setelah menjadi dokter, akan kembali ke Indonesia, dan akan mengabdi memajukan Indonesia. “Sebab walaupun Hartadinata lama di New York, dia masih anak Indonesia. Karena Indonesia adalah tanah tumpah darah kami,” ujarnya.

Tidak ada komentar: