Selasa, 28 Juli 2015
Senin, 27 Juli 2015
Di Manakah Diriku?
Akhir-akhir ini, aku sering terlalu peduli dengan urusan orang di luar sana yang bahkan sebagian besar belum pernah kutemui secara langsung.
Ironisnya, aku justru menjadi acuh dengan orang-orang di sekitarku. Aku jarang sekali menanyakan kabar keluargaku, tetanggaku, kerabatku, dan teman-temanku yang nyata. Aku pun menjadi sulit untuk bertanya apakah mereka memerlukan bantuanku..
Inikah dampak buruk pertemanan via internet yang dulu sering sekali dikeluhkan oleh generasi tua?
Inikah aku yang meski wawasanku semakin luas, namun interaksi sosialku menyempit?
Inikah aku yang oleh orang-orang di luar sana digemari, disenangi, dan dijadikan bintang, tetapi di tengah keluarga dan lingkunganku yang nyata aku menjadi orang tanpa guna?
Di manakah diriku yang sebenarnya?
Sabtu, 25 Juli 2015
Selasa, 21 Juli 2015
Senin, 20 Juli 2015
Sabtu, 18 Juli 2015
Jumat, 17 Juli 2015
The Most Touching Commercials 2014 - Best Inspiring Commercial of the Year
Belajarlah dari manapun itu dan dari hal sekecil apapun.
Acts of Kindness Caught on Camera in 2012
Jangan pernah menunda melakukan kebaikan sekecil apapun.
Jangan sampai kita menyesalinya di kemudian hari.
Kamis, 09 Juli 2015
Akankah Kini Semuanya Nampak Lebih Berarti?
Bukan tanpa tujuan saya menulis semua ini. Kali ini, semuanya terasa sangat berbeda. Maaf jika nanti akan ada banyak hal yang ganjil dan terkesan berantakan -tidak beraturan. Saya mencoba menulis semua hal yang terlintas dalam benak saya saat ini. Saya akan memulainya sekarang.
:::::::
Beberapa tahun lalu, yakni antara tahun 2007 hingga 2011, saya pernah mengalami suatu hal yang setelah itu ada seseorang yang mengatakan kepada saya bahwa kemungkinan besar saya akan melahirkan anak dengan cara sesar (caesar). Bukannya menjawab dengan doa yang lebih baik, gejolak emosi saya yang mudah meledak kala itu justru mendorong saya untuk membalas ucapan orang itu tanpa berfikir panjang. Saya bilang "Paling juga nggak akan sampai situ."
Deg, beberapa saat setelah itu saya baru tersadar.
'Apa yang saya katakan? Seenaknya saya mengucapkan hal yang maknanya mendahului ketetapan Allah?'
Buru-buru, saya meminta ampun pada-Nya di dalam hati. Kini, saya menyesal mengapa saat itu saya tidak turut meminta ampun menggunakan lisan saya.
:::::::
Bertahun-tahun lamanya, saya kembali teringat ucapan saya kala itu.
Senin, 1 Juli 2013, sekitar pukul 20:30 WIB, saya mengalami musibah. Dan hasilnya, saya harus rela mendapat cacat pada jari kelingking tangan kanan saya. Memang beberapa kali sebelumnya saya kerap mengalami kecelakaan lalu lintas, entah itu jatuh di ujung jembatan demi menghindari kemungkinan tercebur ke dalam jembatan karena nyaris menabrak taksi yang berhenti mendadak di depan saya, atau yang menjatuhkan diri karena bagian rok yang saya kenakan tersangkut ke dalam gir roda belakang sepeda, tetapi semua itu ternyata masih lebih baik daripada kejadian awal Juli 2013 lalu.
Saya bersyukur, saya masih diberi kesempatan untuk hidup. Saya sangat berterima kasih kepada Allah dan anggota tubuh saya, terutama jari kelingking saya. Meski harus mengalami luka yang lebih parah daripada bagian tubuh lain, jari kelingking tangan kanan saya turut menjadi perantara atas keselamatan jiwa saya. Ia patah, bukan hanya retak. Jika kini saya bisa menggerakkannya, itu semua karena Allah masih memberi saya rezeki dengan tetap membuat saraf dan otot-otot pada jari itu tersambung. Tulangnya memang patah, tepat pada ruasnya, tapi otot, saraf, dan pembuluh darah masih utuh. Kini, saya memang tidak dapat melipat dan meluruskannya dengan sempurna, tetapi saya sangat bersyukur bahwa saya tidak perlu kehilangannya. Saat menyadari hal itu pada malam harinya, yakni saat menjelang tidur. Saya bertekad, apapun yang akan dilakukan oleh dokter (jika saya memang harus menjalani operasi, dan ada biaya untuk itu) akan saya lakukan. Tetapi jika memang tidak ada biaya untuk itu, saya berniat menjalani terapi apapun untuk memulihkan fungsinya. Dan ternyata tidak cukup uang untuk membiayai operasi dan pemasangan pen satu jari. Lagipula, dokter mengatakan bahwa setelah operasi keadaan jari saya belum tentu kembali seperti semula. Selain itu, saya masih harus menjalani terapi pemulihan. Dengan perkiraan seperti itu, saya lebih memilih untuk menjalani terapi tanpa operasi. Biayanya lebih murah -jauh lebih murah- daripada serangkaian tindakan yang disarankan oleh dokter. Hari-hari setelah kejadian itu, kerap tergaung dalam benak saya bahwa ini hanya mimpi. 'Ini hanya mimpi, dan saya akan segera terjaga.' Tapi kenyatannya, itu semua nyata, bukan sekedar bunga tidur.
:::::::
Dua tahun berlalu semenjak saat itu, tepatnya pada Selasa, 7 Juli 2015, saya kembali mengalami kejadian yang hampir sama seperti dua tahun sebelumnya. Tapi kali ini bukan menimpa saya secara langsung, melainkan kemenakan kandung pertama saya, Rista Salsabila. Usianya baru 3 tahun 5 bulan. Karena kelalaian saya, kaki kanan balita itu masuk ke dalam ruji belakang sepeda saya. Jika dilihat dari lukanya, sama sekali tidak parah. Cukup dibersihkan dan diberi obat, in sya Allah sembuh.
Namun, hasil rontgen keesokan harinya membuat saya benar-benar terkejut. Ada yang salah dengan kaki kanannya. Tulang punggung kakinya tidak terlihat seperti semestinya. Sedikit bergeser dan menumpuk. Saya tahu dan benar-benar sadar, itu bukan keadaan yang baik bagi seorang anak yang sedang sangat lincah. Itu pertanda buruk. Saya paham betul meski saya tidak pernah mengenyam pendidikan radiologi dan fisioterapi secara akademik. Dia mengalami hal yang hampir sama dengan saya. Tapi kaki? Bagi seorang anak, hal itu akan menjadi perjuangan yang cukup berat.
Namun, bayangan tentang keadaan yang seperti itu ternyata tidak lebih buruk daripada menyadari ucapan balita tersebut pagi ini. Kamis, 9 Juli 2015 dini hari, tepatnya ketika kami menunggu waktu imsak, Rista berkata,"Rista pakai baju putih, mama jadi nenek-nenek, pakai baju coklat. Rista sayang nenek-nenek."
Kemudian, ia juga bertanya,"Papa dan mamanya Mama ke mana? Rumahnya di mana? Kok Rista nggak pernah lihat? Papa-mama Mama di mana?"
Kemudian, ia mengulang ucapan pertamanya tentang baju putih-putih dan mamanya menjadi nenek-nenek.
Jujur, saya sempat merinding saat mendengar percapakan anak itu dengan ibunya. Saya teringat, beberapa kali sebelum musibah itu, saya sering melihatnya terbangun saat saya pulang malam. Saya berulang kali terkejut saat melihatnya. Ia duduk di kasurnya di dalam ruang yang telah diredupkan lampunya sembari memperhatikan saya. Ia menatap saya dan saya memandangnya. Tetapi bukan ia yang saya temukan dalam pandangan itu. Sungguh, saya melihat itu bukan seperti tatapannya. Itu siapa? Siapa yang sedang memandang saya?
Berulang kali hal itu terjadi, dan saya sadar, hal itu telah berlangsung selama lebih dari tiga bulan sebelum kejadian dengan sepeda itu.
Saya berdoa, terus-menerus berdoa,
"Ya Allah, tolong beri Rista kesembuhan. Pulihkan keadaannya. Beri dia waktu lebih lama untuk tumbuh dan berkembang. Saya tidak ingin menyesal untuk ke-dua kalinya, ya Allah. Saya mohon. Saya berjanji akan memperlakukannya dengan lebih baik, mendidiknya dengan lebih halus, memperhatikannya, dan mencurahkan lebih banyak waktu bersamanya. Tolong beri ia waktu lebih lama, ya Allah. Tolong beri saya waktu untuk menebus kesalahan-kesalahan saya padanya. Saya mohon, kabulkanlah doa saya. Aamiin."
:::::::
Sobat, saat menyadari bahwa sesuatu atau seseorang, bahkan diri kita sendiri, benar-benar tidak akan kekal abadi di dunia ini, kita akan cenderung menginginkannya lebih lama lagi ada di sisi kita, lebih lama lagi untuk tinggal, untuk hidup di dunia ini. Sekilas, kita akan memanggil kembali ingatan-ingatan kita di masa silam, terutama tentang kenangan akan hal yang hampir "hilang". Satu-satunya penguat hati adalah ingatan bahwa semua hal, semua makhluk, akan kembali kepada pemiliknya. Dan pemilik itu adalah Tuhan.
Meski begitu, tetap saja kita akan merasa sangat kehilangan jika kita benar-benar kehilangannya. Jadi, hal yang bisa kita lakukan adalah berserah kepada-Nya, memohon pada-Nya, berharap pada-Nya, dan melakukan semua hal baik sekecil apapun itu kepada siapapun di dunia ini, baik kepada sesama manusia, maupun kepada makhluk hidup lain, serta tidak berlaku semena-mena terhadap benda mati sekalipun, karena bisa saja benda mati itu adalah perantara perpisahan kita dengan benda mati lain atau bahkan dengan makhluk hidup yang lain.
Saya pernah alpa dalam meletakkan buntelan tas yang saya bungkus kresek (plastik) di dalam keranjang sepeda tanpa mengikatnya ke bagian sepeda sama sekali. Hasilnya, seseorang mengambilnya dengan mudah. Ia merampasnya tanpa mendapat sedikitpun perlawanan dari saya. Saya kehilangan benda-benda mati penting yang ada di dalam tas itu. Tas seisinya raib dan belum ditemukan hingga saat ini.
:::::::
Sobat, selalu ada hikmah di balik suatu kejadian. Sesuatu terjadi bukan tanpa sebab. Ayat-ayat di dalam Al-Qur'an pun berkali-kali menyebutnya
".... menjadi pelajaran bagi orang-orang yang berfikir."
Dan nampaknya hal itu memang benar adanya.
Jika kita benar-benar merenungi rangkaian peristiwa yang telah lampau, yang akan kita temukan hanyalah "suatu pola dan rangkaian hikmah atas sesuatu yang telah berlalu." Dan itu semua akan berakhir pada kesadaran bahwa kita bukan sedang melangkah ke depan, melainkan berjalan ke belakang.
Saat orang-orang merayakan ulang tahun kita, sejatinya usia kita tidak bertambah. Angkanya memang bertambah, tetapi kesempatan kita untuk hidup di dunia ini semakin berkurang. Kita sedang berjalan ke dalam kehidupan yang lebih kekal. Kita dalam perjalanan pulang, dan perjalanan kita hanya sebentar.
Benar kata pepatah Jawa
Benar kata pepatah Jawa
"Urip kuwi mung mampir ngombe"
Hidup itu hanya singgah, hanya mampir untuk minum. Berapa lama sih waktu kita untuk minum?
:::::::
Akankah kini semuanya nampak lebih berarti?
Semoga ada banyak pelajaran yang dapat kita petik dari sedikit cerita pagi ini.
Sabtu, 04 Juli 2015
Vocal group The Neales are keeping it in the family | Britain's Got Tale...
are you a lawyer aged 29 y.o, handsome guy?
Rabu, 01 Juli 2015
Langganan:
Komentar (Atom)