Halaman

Selasa, 07 April 2015

Minggu, 01 Maret 2015

Di manakah Barang-Barang Ini Sekarang?


Jumat, 13 Februari 2015, sekitar pukul 18.00 WIB, saya mengalami suatu hal yang saya harap dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Kejadian yang entah dikategorikan sebagai penjambretan, perampasan, pencurian, atau pencopetan tersebut berlangsung sangat cepat dan benar-benar di luar dugaan saya. Saat itu saya sedang mengendarai sepeda dalam perjalanan pulang dari bekerja di daerah tenggara kota Yogyakarta menuju tempat tinggal di wilayah Umbulharjo. Dalam perjalanan itu, saya sempat berhenti di simpang empat Veteran, tepatnya di sisi timur RSI Hidayatullah karena lampu lalu lintas menyala merah. Tidak berapa lama kemudian, lampu kembali hijau. Saya berbelok ke kanan, menuju arah XT Square. Baru berjalan kurang dari 50 meter, seorang pengendara motor matic mendekati saya dari sisi kanan. Semula saya kira ia menjadi sangat dekat karena posisi saya yang sedikit ke tengah jalan demi menghindari beberapa lubang yang mungkin ada di bawah kubangan air di tepi jalan yang terbentuk usai hujan beberapa saat sebelumnya. Namun, dugaan saya meleset. Orang yang nampaknya laki-laki itu dengan lincahnya menjulurkan tangan kiri dan mengambil barang yang saya bungkus kresek oranye bertulisan Mutiara Mas Medika yang saya letakkan di dalam keranjang sepeda. Dengan gerakan kilat, ia memindahkan barang bawaan saya ke depan jok motornya, tepat ke atas sebuah ransel traveling yang cukup besar, berwarna hitam-biru yang sepertinya kosong, yang diletakkan di antara kedua kakinya. Saya sempat berteriak “Hei, woy! Maling! Pencuri!” sebelum pencuri itu bergerak menjauh. Saya pun sempat meminta tolong kepada orang-orang di sekitar saya, namun mungkin ucapan saya tidak terdengar jelas, sehingga mereka diam saja dan hanya memandang saya. Tak mau kehilangan jejak, saya berusaha keras untuk membaca plat nomor kendaraan dengan cara mengejarnya, tetapi pendar lampu belakang motor nampaknya berhasil menutupi plat nomor motor yang mulai dilajukan dengan kencang menuju keramaian jalan yang biasanya sepi, sehingga saya tidak dapat melihat ke arah mana orang itu pergi. Masih ada persimpangan setelah tempat kejadian perkara, yakni ke utara arah jalan Glagahsari dan ke barat arah jalan Menteri Supeno, tapi saya tidak tahu ke arah mana orang itu pergi. Saya sangat menyesali keteledoran saya hari itu, yakni dengan memindahkan barang dalam plastik kresek oranye tersebut ke atas mantol yang saya kenakan beberapa saat sebelumnya, padahal semula mantol itu sempat bertengger di atas buntelan kresek oranye yang berisi sepasang kaus kaki putih bertepi ungu (di dalam kresek putih) dan sebuah tas selempang coklat susu berhias sepatu bertali di bagian depannya, dengan plisir rit coklat tua. Tas perempuan kain semi kanvas tersebut berisi tiga buah ponsel, yakni sebuah ponsel Samsung Galaxy Y duos GT-5312 berwarna putih dengan silicon case ungu beserta charger putihnya, sebuah ponsel E-Touch Silver dengan silicon case kuning dan gantungan tali kecil, dan sebuah ponsel E-Touch silver bersilicon case hijau muda. Saya menyesal membawa ketiganya, sedangkan biasanya hanya maksimal dua buah. Selain ponsel, ada sebuah pouch putih bertulisan “Laxing”, berisi sebuah buku tabungan BRI a/n Triningsih Rahmawati, yang di dalamnya terselip sebuah kartu perpustakaan kota Yogyakarta dan dua buah kartu member Karuma Swalayan dan Mirota Kampus a/n Triningrum Kurniawati; sebuah flashdisk 4 GB bening dengan tali berwana biru bertulisan WD Stor; sebuah gantungan kunci berbentuk lebah yang saya buat sendiri seperti lambang Beetalk, tiga lembar Hansaplast jumbo; dan beberapa hal lain yang tidak saya ingat sepenuhnya. Selain itu, ada sebuah sebuah dompet pouch putih yang bergambar, bertulisan, dan berplisir rit merah, dengan dua kantong. Kantong pertama berisi peralatan make up, meliputi bedak Marina (tinggal sedikit), lipstik Viva merah muda (masih baru), sikat kecil pembersih gigi dengan tangkai hijau muda, seamplop kertas wajah, dan sebuah puff bedak muka yang masih terbungkus plastik. Sementara kantong di sebelahnya berisi sebuah buklet informasi publik yang dikeluarkan oleh Mirota Kampus dan beberapa surat penting seperti KTP, SIM C, KTM dan Kartu Perpustakaan UST, sebuah ATM BRI, kartu Askes, kartu Flazz dari BCA, dan beberapa lembar kartu pasien dari JIH, RS Mata dr. Yap, RSPAU Hardjolukito, RSI Hidayatullah, dan Puskesmas Umbulharjo, semuanya a/n Triningsih Rahmawati.

Selain itu, terdapat sebuah botol minum keluaran Tupperware berwana kuning kehijauan, berukuran 330 ml; sepasang kaus tangan berwarna biru-hitam; sebuah kacamata hitam bertulisan RB Space; sebuah kantong transparan keluaran Garuda Indonesia yang berisi sebuah kacamata bening dengan frame dan tangkai hitam; dua potong jilbab instan tebal dan sebuah pakaian batik berwarna coklat; sebuah jilbab putih bertepi hitam; sebuah mantol plastik oranye-merah; sebuah mantol tas ransel berwarna hitam; sebuah dompet koin bermotif batik berwarna coklat muda; dan sebuah tisu gulung. Di bagian saku depan tas terdapat beberapa lembar uang ribuan, sebuah kartu berlangganan reguler dari Dinas Perhubungan untuk pengguna bus Trans Jogja; dan tiga buah kunci yang terangkai menjadi satu.

Barangkali Anda terkejut membaca rincian barang yang saya sebut berada di dalam tas yang saya bawa kala itu. Saya pun terkejut ketika menuliskannya dan tak habis pikir mengapa pagi sebelum kejadian, saya membawa begitu banyak barang padahal tujuan saya pagi itu hanya untuk bekerja. Apapun itu, hingga hari ini saya masih berharap semua barang yang hilang dapat ditemukan dan kembali ke tangan saya dalam keadaan utuh sama seperti ketika diambil oleh pencuri bermotor tersebut. Untuk itu, saya meminta kesediaan semua pihak yang membaca tulisan panjang ini untuk menyerahkan barang-barang yang saya sebutkan di atas bila mungkin Anda melihat atau menemukannya. Jika mengalami kesulitan untuk mengantarkannya langsung ke tempat tinggal saya, Anda dapat menitipkannya di kantor polisi terdekat dengan lokasi Anda. Jika Anda telah menyerahkan barang temuan tersebut ke kantor polisi, silakan kirim pesan singkat (sms) pemberitahuan kepada saya di nomor 088802804360. Mohon maaf, saya tidak menerima panggilan telepon. Terima kasih banyak telah meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini ^_^

Rabu, 04 Februari 2015

Inikah Cinta?

Aku tidak tahu bagaimana rasanya terperangkap cinta. Aku tak pernah menolak rasa tertarik dan penasaran. Tapi dulu, aku selalu mengelak hadirnya hubungan yang berasal dari rasa itu. Aku melakukannya setelah sekian tahun lamanya cintaku bertepuk sebelah tangan. Ya, cintaku (setidaknya hingga tahun 2014 lalu), tak pernah bersambut.

Hmm.. rasanya baru kemarin semua itu terjadi. Cinta monyet masa sekolah dasar dan sekolah menengah agaknya turut andil membentuk persepsiku akan cinta. Rasa yang mengiringinya seakan tak pernah berakhir indah. Seolah, aku berjalan melintasi sebuah taman bunga yang ada banyak buku berserakan di atas tanahnya dan membuatku penasaran, tapi tak ada izin bagiku untuk membuka lembarannya, bahkan sekedar menyentuhnya.

:::

Kini, hari ini, entah sejak kapan aku mendapati rasa itu. Padanya, yang bahkan belum pernah kutemui.

Aku berdo'a dan berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar jika ia adalah benar jodohku, calon suamiku, dan kelak ia menjadi suamiku, maka mulai hari ini kami tak saling mengirim pesan yang sangat dekat seperti biasanya. Tetapi aku berharap, rasa jauh itu sebagai awal kedekatan hakiki di antara kami. Aku berharap, rasa jauh ini mampu mendekatkan hatiku dan hatinya kepada Ilahi Rabbi. Dan aku berharap, kelak Allah pertemukan kami dalam ikatan yang suci dan halal. Aku berharap, Allah menjadikan kami sebagai sepasang suami-istri melalui pernikahan yang penuh berkah. Aamiin...

:::::

Teruntukmu, duhai calon imamku sayang O:-)

Minggu, 11 Januari 2015

Antara Cinta dan Nafsu Syahwat

"Ketika cinta sangat dimuliakan dan diagung-agungkan, godaan syetan menyelinap dalam hati. Akibatnya, cinta dan hawa nafsu kian tak ada jarak. Nafsu syahwat telah memperalat cinta untuk berbuat maksiat. Kondisi ini mudah ditemui pada orang pacaran. Ungkapan cinta di awal hubungan, terutama bagi pria, cuma sebatas lips service untuk menutupi keinginannya menyalurkan hasrat seksual."

Sedikit kutipan dari buku "Boy vs Girl" karya Herliana Herman ini agaknya sesuai sekali dengan kondisi saat ini yang terbilang umum untuk dilakukan oleh setiap pasangan. Bukan apa-apa memang, orang bilang hal itu wajar. Tapi jika terus-menerus dilakukan, siapa yang dapat menjamin bahwa tidak akan ada hal yang lebih dan lebih lagi daripada sekedar "tempel bibir". Mungkin pertamanya hanya saling pandang, saling lempar senyum, saling lirik, saling sapa, saling pegangan, saling rangkulan, saling peluk, hingga saling cium. Ciumannya juga awalnya hanya di bagian luar. Akh, belum puas. Makin nempel lah tu bibir. Lama-lama, persis seperti anak burung minta disuapi induknya ~kedua bibir mulai menganga~ lalu mencoba mencicipi bagian bibir terdalam pasangannya. Belum puas juga, lidahnya keluar. Ditangkaplah kumpulan otot yg menjulur bak lidah bunglon siap nyaplok serangga atau lidah cicak siap nangkap nyamuk yang melintas-  oleh pasangannya. Sampai bersuara ceplak ceplok ciuut. XD
Sampai situ, hasrat pegang-pegang pun mulai berlebihan, nafas semakin menggebu. Tangannya... aishh... udah sampai mana ya itu? Hehehe...

Oke, stop. Sampai di situ saja. Ndak saya nanti dilaporkan ke meja hijau.

At least, apa sih yang bisa kita pelajari dari pembahasan di atas?

Ooh bukan.. Bukan itu... (hadeh.... mikirnya lempeng-lempeng aja ya, Sob).

Baik. Nggak usah ceramah panjang kali lebar, inilah beberapa hal yang dapat kita petik dari penjabaran di atas:

1. Batas antara cinta lawan jenis dengan hasrat seksual itu tipis banget. Ibarat membran semi permeabel (you know what i mean), dindingnya itu akan cukup mudah untuk ditembus.

2. Sekuat apapun seseorang menjaga diri dan hatinya, ia nggak akan kuat melawan nafsunya sendiri. Apalagi jika telah menerima berbagai stimuli. Ibaratnya, si stimulus tersebut adalah bisikan syetan.

3. Laki-laki cenderung masih mampu membedakan kebutuhan seks dengan main-main. Mereka bisa melakukan hubungan seks karena memang butuh pelampiasan atau sekedar "bermain".
Perempuan cenderung sulit untuk membedakan keduanya. Mungkin mereka bisa melakukannya untuk dirinya sendiri [raganya beraksi, pikirannya ke mana-mana], tapi tidak mudah bagi mereka untuk membedakan perlakuan seorang lelaki kepadanya.
So far sih begitu..

So, hal-hal apa saja yang dapat kita lakukan untuk mengatasi tiga masalah di atas?

1. Ingat Tuhan.
Ingatlah selalu bahwa Tuhan selalu mengawasi kita. Di mana pun kita berada, apapun yang kita rasa dan fikirkan, Tuhan pasti tahu. Tanpa perlu kita ungkapkan (baik dengan kata-kata maupun pertunjukan lain), Tuhan Mahatahu segalanya.

2. Ingat mimpi-mimpi kita.
Cita-cita yang kita khayal dan bangun sejak kecil lebih berarti daripada sekedar pelampiasan nafsu syahwat. Tunjukkan bahwa kita mampu menggapainya dan buatlah kedua orangtua dan keluarga besar kita bangga.

3. Kaji dan terus kaji ilmu-ilmu agama dan kehidupan. Pahami dengan baik, amalkan yang baik dan tinggalkan yang buruk. Hidup bersosial lebih asyik ketimbang hanya berduaan dengan yang ituuuuu saja. Membosankan bukan?

4. Syukuri dan hargai diri kita.
Kita terlahir "sempurna". Tubuh dan jiwa kita sangat berharga. Nominal berapapun tidak akan bisa membelinya seutuhnya. Raga kita milik Tuhan, jiwa kita pun demikian.
Jika kita memperlakukannya sia-sia, apa yang dapat kita gunakan untuk menggantinya saat Tuhan memintanya kembali?

Terakhir, urip kuwi mung mampir ngombe. Hidup itu hanya singgah untuk sekedar minum.
Berapa lama sih waktu yang kita gunakan untuk minum (sebelum kembung pastinya)? Sejam? Setahun? Seabad??
Tidak.. tidak sampai selama itu.
Durasi rata-rata manusia mampu meneguk minuman hingga nyaris kembung hanya kurang dari 5 menit. Bayangkan jika kita hidup hanya diberi waktu kurang dari 5 menit !

Sobatku semua...
Apalah arti "bercinta" kalau kita tidak dapatkan apa-apa darinya?
Ketika telah menikah secara resmi dan sah, baik di mata agama maupun negara, saat itu hati menjadi lega. Apapun aktivitas mesra yang kita lakukan bersama pasangan akan terasa ringan, tanpa beban rasa bersalah. In sya Allah, diberkahi.
Jadi, buat apa membuang masa muda yang masih ting-ting hanya demi pemuasan sesaat?

Semuanya kembali pada pribadi masing-masing.
Baca tulisan ini baik-baik dan renungkan...
Apa saja yang telah kaupersembahkan kepada Tuhan-mu?
Apa saja yang telah kausampaikan kepada kedua orangtua atau walimu?
Apakah selama ini kau telah membuat mereka bangga? Atau justru bersedih?

:::::::::::==================:::::::::::::

Akhir kata (untuk tulisan kali ini), semoga hal-hal yang saya sampaikan di sini dapat bermanfaat.
Jika ada kesalahan, sekecil apapun (apalagi jika besar), mohon dimaafkan.
Jika ada banyak faedah, berterimakasihlah kepada Tuhan, karena Dia telah memberimu kesempatan untuk membaca tulisan ini.

Semoga Allah meridhoi hal ini. Aamiin

Kamis, 08 Januari 2015

Jangan Buat Aku Jatuh Cinta

Jangan kau buat aku jatuh cinta
sebelum kutahu siapa yang kau sayangi

Jangan kau buat aku jatuh cinta
sebelum kutahu siapa yang kaucintai

Jangan buat aku jatuh cinta
sebelum kutahu siapa yang kauhormati

Jangan buat aku jatuh cinta
sebelum aku tahu siapa Tuhan-mu

Jangan buat aku jatuh cinta
sebelum kutahu siapa yang sangat kaudambakan 'tuk jadi kekasihmu

Jangan buat aku jatuh cinta
sebelum kutahu alasanmu tertarik padaku

Jangan buat ku jatuh cinta
sebelum kutahu semua tentangmu

Jangan

Jangan kau buat aku jatuh cinta