Halaman

Kamis, 20 November 2014

Uneg-Uneg

Tahukah kalian, teman-teman?
Suara hati rakyat kecil yang sesungguhnya mengenai kenaikan harga BBM adalah:
- pada awalnya memang keberatan, tetapi mereka (khususnya warga Jogja) lebih menyukai ketenangan.
- mereka puas asal dapat hidup tentram, tanpa ancaman.
- telah puluhan tahun mereka hidup "sengsara", tetapi mereka berusaha menikmatinya.

Tidakkah kalian tahu akibat aksi demo dua hari lalu, banyak rakyat yang mengeluh?

Bukan. Bukan karena melonjaknya harga BBM, melainkan karena segelintir pemuda yg katanya menyuarakan aspirasi rakyat ternyata justru membuat mereka semakin "sengsara".

Akibat aksi demo di sekitar UIN pada Selasa & Rabu lalu, banyak kendaraan yg dialihkan ke jalan2 alternatif yg semula kondusif, menjadi macet berjam-jam. Hal itu tentu berdampak pada penggunaan bahan bakar kendaraan yg terjebak kemacetan. Belum lagi waktu yg tersita lbh banyak demi mencapai tempat tujuan.
Selain itu, tdk sedikit tempat usaha yg terpaksa ditutup oleh pemilik atau karyawannya.
Tidakkah kalian berfikir, berapa banyak kerugian yg terjadi akibat aksi anarkis semacam itu?
Melempar batu, mengusik ketenangan... Itukah yg disebut pro-rakyat??

Teman2 mahasiswa yg pernah beraksi demo serupa, tidakkah pernah kalian fikir apa yg sangat mungkin terjadi dalam aksi spt itu?
Terkena molotov, batu, gas air mata, rantai, pisau, peluru?
Apakah kalian tidak berfikir, bagaimana jika hari itu adalah hari terakhir jantung berdetak? Saat terakhir utk bernafas?
Tidakkah kalian sayang kepada bapak, ibu, dan saudara-saudari kalian??

Kawanku, hidup ini singkat. Untuk apa dipersingkat? Bukankah masih banyak mimpi yg ingin kita gapai?

Ayo, renungkanlah... dan mulai perbaiki diri.
Kita tak pernah tahu kapan malaikat maut menghampiri atau bahkan menjemput..
Kita hanya bisa yakin bahwa ia akan datang. Ia pasti datang. Sayangnya, kita tidak akan pernah tahu kapan ia akan datang.
Ingat, malaikat maut tak punya BB, WA, FB, bahkan nomor telpon. Kita tidak bisa memintanya menunda kedatangan.

Mungkin kalian heran kenapa aku sering sekali membahas kematian.
Mungkin kalian mengira bahwa aku mengalami paranoid.

Ya. Paranoid alias parno. Mungkin memang benar itulah yg terjadi padaku. Tapi aku tidak separah itu. Aku benar2 sadar akan kecemasanku.

Sering aku berfikir apa yg akan terjadi jika aku t'lah tiada. Spt apa keadaanku saat itu, di mana aku berada, bagaimana keluargaku mengatahuinya, dan apa yg akan mereka lakukan?

Aku cemas, aku takut, & aku sedih..

Aku khawatir pada mereka & juga pada barang2ku..
Tapi aku lebih khawatir pada keadaanku kelak. Akankah aku gemetaran saat berhadapan dengan para malaikat? Akankah aku mencicipi sulitnya meniti jembatan? Akankah aku merasakan panasnya jilatan api neraka? Akankah aku mendapat pengampunan?
Akankah aku dapatkan rumah & sajian yg indah di sana? Akankah aku dapat bertemu & berkumpul dengan orang2 yg kusayangi?

Setiap hari, bayang2 kematian semakin jelas tergambar... Ia berjalan semakin dekat.

Tidakkah kalian merasakannya?

Jumat, 07 November 2014

Inilah Hidup

"Kalau sesuatu sudah menjadi garis takdir dan harus dijalani, maka sejauh apapun menghindar, kita tetap harus menyelesaikannya suatu saat nanti.. Pelarian sifatnya hanya menunda karena selalu ada akhir untuk setiap permulaan. Start selalu diakhiri dengan finish.."

Demikian sepenggal balasan dari seorang penulis baru kepadaku.
Saat surat elektronik itu kuterima, aku baru saja selesai menonton film "Beautiful Mind".
Kiranya, kesimpulan tentang makna judul sebuah buku, "Fate",  tak jauh berbeda dengan film yang baru saja kutonton.

Ya, hidup adalah apa yang kita lakukan saat ini. Dan saat ini adalah rangkaian dari episode masa lalu dan masa depan. Entah hari ini akan berakhir baik atau buruk, semuanya bergantung pada cara kita menyikapinya. Kita boleh berlari atau tetap tinggal dan menghadapinya. Namun, baik lari atau tinggal, kita tetap akan menemukan akhirnya.

Inilah hidup...yang hanya ada dua tipe:::

"angan dan nyata".

Minggu, 26 Oktober 2014

Ketika Kerinduan Berbalas, ...

Aku memikirkannya hampir seharian tanpa berani menyapanya. Tak kusangka, menjelang malam ia menyapaku.

Subhaanallah.... inikah cinta yang sesungguhnya?

Senin, 20 Oktober 2014

Makna Hidup

Guys, semua hal yang terjadi dalam hidup ini ada alasannya..

Pandai-pandailah memaknai suatu perkara yang menimpamu, entah itu perkara baik atau perkara buruk.

Hal yang menurut kita baik, belum tentu baik bagi kita. Sebaliknya, hal yang kita anggap buruk, belum tentu berakhir buruk bagi kita.

Semuanya kembali pada bagaimana hati, akal, dan raga kita bekerja, serta bagaimana kita memberinya makna.

Ingat, ada pelajaran di balik semua yang terjadi..

Jadi kawan, teruslah berfikir positif sepanjang hari ^-^

Terkadang Kita Menang, Kali Lain Kita (Tidak) Kalah

Manusia kerap beranggapan bahwa hidup adalah sebuah pertarungan. Pertarungan dapat diartikan sebagai sebuah pertandingan antara dua orang atau lebih yang berselisih atas suatu hal, yakni dengan menganggap diri sendiri atau kelompoknya yang terhebat, sehingga yakin akan menang, dan mereka menyepakati satu atau beberapa hal. Dalam pertarungan seperti itu, jelas akan ada pihak yang menang dan pihak yang kalah. Siapa kuat dan cerdas, dia yang menang.

Namun, hidup bukanlah perkara menang-kalah semata, melainkan bagaimana kita memaknai kedua hal tersebut. Jika menang, sebaiknya kita bersyukur karena tanpa kehendak Tuhan, kita akan kalah. Jika kalah, kita harus melakukan evaluasi, mencari tahu hal apa yang membuat kita kalah. Kita harus mempelajarinya dengan baik dan berlatih kembali, agar kelak ketika harus menghadapi hal yang sama, kita dapat mengatasinya dengan baik.
Banyak contoh dalam kehidupan ini yang menggambarkan "pertarungan" dengan orang lain. Hal ini lebih sering disebut sebagai persaingan. Kita dapat menganggapnya sebagai "bumbu kehidupan".
Namun, "pertarungan" yang sesungguhnya adalah pertarungan antara sisi buruk kita dengan sisi baik kita. Ya, "internal fighting" !

Kita dikatakan kalah jika kita tak mampu mengatasi gejolak dalam diri kita sendiri. Sebaliknya, kita akan menjadi pemenang jika kita mampu mengatasi persoalan diri sendiri dengan cara belajar dari "kekalahan-kekalahan" di masa lampau.

So...

"Sometimes we win, sometimes we (not) lose, but learn."