Halaman

Jumat, 17 Oktober 2014

Jalan Hidupku, Pilihanku

Ketika hidup terasa penat, baru kusadari ada begitu banyak hal yg terlewati.
Terikat masa lalu, terobsesi masa depan, aku justru terbelenggu di masa kini.

Aku ingat telah melihat, mendengar, mengucap, menulis, dan melakukan serta merasakan berbagai hal.. tapi saat menyadarinya, seolah kejadian2 itu baru saja berlalu..

Ingatan akan perasaanku semakin memendek..

Terkadang, ingin kukembali ke masa lalu dan menebus semua kesalahanku dan melakukan hal2 menarik &  berguna yg blm pernah kulakukan.
Tapi ku hidup di masa kini, yg terus berjalan cepat mendahuluiku..
Meski banyak hal buruk yg kulakukan di masa lalu, setidaknya sekarang aku mengerti. Aku bisa belajar dari semua itu...

Jalan hidupku, pilihanku.

Pelajaran Ada di Semua Tempat

Petang ini saya mengerti. Saya mendapat pelajaran baru yang berharga. Seulas senyum itu benar-benar mampu mengubah masa depan.

:::

Ceritanya begini...

Hari ini, saya ke kampus menggunakan bus. Singkat kata, pulangnya juga naik bus.
Saya duduk manis menunggu jalur 2B bersama bbrp calon penumpang lain. Suasana msh adem ayem, hingga datang seorang laki2 bergamis dengan sebuah pin berbentuk lambang POLRI tersemat di dadanya.
Sejenak kmdn, ia mendapat panggilan telepon dari seseorang. Ia membicarakan masalah DPO, FPI, & D88. Saat itu ia sedang sibuk menyeka keringat di wajah dan lehernya.
Tak berapa lama kenudian, saya menangkap sebuah tisu bekas pakai meluncur di dekat kakinya. Saya ragu apakah itu miliknya atau tisu yg tertiup angin.
Bbrp saat berlalu... lama2 gemes juga. Saya ingat sebelum brgkt ke kampus, sy sempat menyelipkan sebuah kapas yg baru sebentar saya gunakan.
Saya ambil kapas itu lalu bergegas memungut tisu bekas pakai di lantai halte, di dpn banyak orang. Setelah itu saya masukkan ke tempat sampah. Orang-orang menatap heran sekaligus tersenyum, tetapi sayang, mimik jengkel msh membekas di wajah saya. Saya sama sekali tidak bermuka datar apalagi tersenyum.

Setelah membersihkan tangan dengan gel pembersih, saya baru tersadar.
Apa yg tlh saya lakukan? Kenapa saya marah pada mereka?
Mungkin saja mereka juga ingin melakukan hal yang sama, tapi bisa jadi mereka tidak punya kertas atau apa saja utk memungut sampah itu. Atau mgkn juga mereka tidak membawa tisu basah atau hand sanitizer. Kenapa saya turut menimpakan kekesalan kepada mereka?

Betapa sombongnya
.
.
.

Rabu, 03 September 2014

Apa Makna di Balik Mimpi Ini?

Rabu, 3 September 2014, dini hari hingga Subuh, aku mendapat mimpi yg sangat aneh. Berikut adalah kronologi mimpi tsb...

Saat itu hari masih terang. Aku sedang duduk2 di ruang tamu rumah Nitikan. Anehnya, ruangan itu tak beratap. Aku bisa melihat langit dan ada sebuah pohon pisang yg menjulang hingga aku pun bisa melihatnya.
Saat mendongak ke atas itulah aku melihat sebuah pesawat dari suatu maskapai penerbangan Indonesia (akan kutulis secepatnya jika berhasil mengingatnya) terbang sangat rendah. Ia persis melintas di atas rumah dari arah utara ke selatan. Saat itu di sisi utaraku (yakni di belakangku krn kala mendongak aku menghadap  ke selatan) ada saudara kembarku. Dan yg kuheran, ibuku sedang melintas dari arah ruang tengah bermaksud ke teras. Aku berkata pada beliau,"Bu', ada pesawat.". Belum sempat beliau menjawab, sepersekian detik kemudian aku merasa pesawat itu akan jatuh. Dan ternyata dugaanku benar. Pesawat itu tertarik kembali ke utara setelah sebuah tali yg menjuntai di badan pesawat yg entah dari mana asalnya, tersangkut atap ruang "kamar wetan". Saat itu, aku spontan berteriak. Pesawat itu terpental perlahan ke arah lantai, lalu ia sempat sedikit berputar posisi menjadi setengah terlentang sebelum akhirnya jatuh. Ibu dan saudara kembarku sempat menghindar, tetapi bagian belakang pesawat sepanjang +- 4 meter itu menimpa kakiku saat aku jatuh terduduk dg tetap menghadap ke selatan. Aneh, kukira pesawat itu berat. Ternyata sangat ringan. Sedikit berdebam, seluruh badan pesawat itu akhirnya mendarat di lantai ruang tamu.
Aku, dibantu Ibu dan saudara kembarku, segera memindahkan bagian pesawat yg menimpaku. Lalu Ibu memintaku segera memberitahukan hal ini kepada orang lain, dengan maksud mencari bantuan. Tapi, saat hendak membuka pintu ke arah teras, kulihat seseorang berkaus hijau & bercelana pendek, dg penampilan kumal, dekil, & sangat berantakan sedang duduk di kursi teras. Ia yg semula menghadap ke utara, tiba2 melihatku. Aku tak tahu, tetapi ia spt orang kurang waras. Dan anehnya lagi, saat itu hari telah gelap.
Buru2, kututup pintu & kukunci rapat, lalu segera kuberitahu ibuku semua hal yg baru saja kulihat. Akhirnya kami memutuskan utk memberitahu tetangga keesokan paginya, stlh hari terang.

Paginya, aku keluar hingga ke mulut gang. Tak kuperdulikan orang aneh yg saat itu tlh berada di mulut gang. Kuceritakan kejadian pesawat itu kepada tetangga yg kutemui. Saat itulah terlintas pemikiran utk melihat keadaan di dalam pesawat dan barangkali menolong para korban.
Aku bergegas kembali ke rumah, diikuti oleh tetangga2ku.. lalu kudekati badan pesawat itu dg rasa cemas & sedikit ngeri. Aku bersiap menyaksikan keadaan apapun yg mgkn saja ada di dalam sebuah pesawat yg jatuh.

Aku melihat bbrp penumpang nampak tertidur lelap. Pakaiannya warna-warni, begitu pun properti yg mereka bawa. Kengerianku sedikit berkurang, setidaknya aku tak menjumpai penumpang yg terluka & berdarah-darah.
Aku kembali ke luar, melihat keadaan di luar.. setelah itu kembali ke dalam.
Sambil menunggu bantuan pihak berwenang, kurapikan seisi ruang tamu. Meski tahu bahwa semua hal yg ada di sekitar lokasi termasuk barang bukti, aku nekat merapikannya. Bahkan kucoba untuk membongkar isi kabin pesawat malang itu.
Kudapati bbrp org mirip boneka dg pakaian cerah. Tak ada warna hitam dan putih di dalam pesawat itu. Semuanya berwarna cerah. Kukeluarkan semuanya, lalu kuperiksa satu persatu.
Akhirnya kutemukan sebuah kotak kecil berukuran +- 10 gram & tanpa sudut yg setengahnya berisi cairan berwarna mirip lampu lalu lintas. Saat kulihat lbh dekat, kudengar suara "ngeses" dari dlm kotak, & kuberitahukan hal itu pada org lain. Meski begitu, seseorang tetap memintaku utk membukanya. Sblm melakukannya, kudekatkan kotak bening kecil itu ke telinga kananku. Kudengar desis cairan itu bertambah keras. Seiring makin kerasnya suara itu, tampak peningkatan suhu pada termometer ruang yg entah dari mana asalnya tiba2 ada di depanku. Semakin merah, semakin panas, lalu saat akhirnya tutup kotak itu terbuka.... bum! Ledakan kecil terjadi. Apipun memercik. Buru2 kukibaskan api itu dari tanganku yg seketika Ibu telah menutupnya dg sepotong kain basah. Kakak sulungku yg entah sejak kapan berada di situ, tlh membuka tabung APAR dan berhasil memadamkan api. Saat itulah aku terjaga dan dg nafas memburu, aku beristighfar berulang kali..
Aku kembali mendapat mimpi yg aneh :-I

Selasa, 26 Agustus 2014

Apa Makna Teman Bagimu?

Malam ini, bahkan sepanjang hari ini, saya banyak merenung tentang arti seorang teman.
Teman-teman sejati adalah mereka yang menyayangi kita laksana saudara, yang mencemaskan keadaan bahkan pemikiran kita, yang senantiasa mengingatkan kita untuk kembali ke "jalan yang lurus", yang dengan mudah dan santunnya mengingatkan kita untuk berhati-hati, bahkan terhadap tindakan kita sendiri, dan adalah mereka yang ucapannya mampu mengena bahkan menohok sanubari dengan "sentilan" kebaikan meski kita tak sepenuhnya mendengarkan atau menyimak.

Itulah sedikit arti teman yang bisa kumaknai malam ini. Bagaimana denganmu? Apa arti teman bagimu?

Minggu, 24 Agustus 2014

Pernahkah Kalian Memperhatikan dan Menyadari Hal Ini?

Ada sebuah taksi berhenti di depan tempat kerjaku. Demi mendapat pemasukan, sang sopir menuruti permintaan sepasang remaja yang kedua gerak-geriknya membahasakan "pacaran". Mereka, terutama si wanita, terlihat benar2 sedang kasmaran... padahal berjilbab.. :-(

Taksi masih belum bergerak. Pak sopir sedang memastikan arah atau tujuan kedua penumpang. Kuperhatikan tatapan mata dan gesture si bapak sopir taksi. Agaknya beliau khawatir, tapi apa boleh buat, demi sesuap nasi..

Hmm.. miris juga ya..
Barangkali terselip dilema dalam benak para sopir taksi yang "lurus".

Akan dibawa ke mana bangsa ini kalau sebagian besar generasi penerusnya seperti itu?