How we teach our child(ren)?
Bagaimana kita mendidik anak(-anak) kita?
Mendidik anak tidak sama dengan membangun sekompi pasukan.
Mendidik anak adalah membentuk satu karakter untuk membangun suatu bangsa.
Jika perumpamaan itu terkesan terlalu tinggi, baiklah, saya akan menggunakan analogi yang lebih sederhana untuk menyampaikannya.
Mendidik anak tidak seperti melatih marinir untuk bertempur di medan perang. Berbicara kepada anak juga tidak sama seperti mengatur pasukan dalam suatu latihan upacara.
Saat kita mendidik anak, seyogyanya kita merasa bahwa kita bukan sekedar berbicara dan menanamkan suatu nilai-nilai pada anak. Bukan pula hanya menyampaikan suatu ilmu, materi, tugas, atau apapun namanya, melainkan berbicara dan bersikap pada diri kita sendiri. Oleh karena itu, mendidik anak tidak bisa seenak udel kita sendiri.
Saat kita bersikap keras, berbicara dengan nada tinggi, dan menyuruh-nyuruh anak kita, apakah kita sendiri mau diperlakukan seperti itu? Oh, mungkin seperti itulah masa kecil kita. Namun, apa kita bahagia dan merasa baik-baik saja saat (mungkin) dulu kita mendapat perlakuan serupa dari orangtua kita? 100% tidak!
Mungkin kita telah mampu mengambil pelajaran dari semua hal yang kita hadapi di masa lalu, namun apakah kita yakin generasi masa kini bisa melakukan hal yang sama, terlebih usia mereka jelas lebih muda daripada kita? Apa kita perlu menunggu sepuluh hingga duapuluh tahun lagi agar mereka mengerti?
Mungkin dulu kita menganggap cara mendidik anak yang seperti itu adalah cara terbaik agar anak tidak nglunjak, tidak rewel, dan sebagainya. Tapi itu dulu, dulu, saat kita belum mengenal YouTube, saat kita masih bermain di tanah lapang, saat kita masih asing dengan gawai (gadget), saat kita bahkan begitu menikmati kesempatan memanjat pohon yang cukup besar dan tinggi.
Bagaimana dengan anak zaman sekarang? Apakah mereka masih bisa melakukan semua itu? Mungkin iya, mereka mampu, tapi sarana dan prasarananya nihil. Jadi, mereka bisa apa selain berurusan dengan gawai dan semua hal yang dapat diakses dari piranti itu?
Anak masa kini hanya mendapat kesempatan belajar dengan visual dan audio mereka. Kinetik, rasanya sulit dikembangkan, tapi mereka jauh lebih kreatif dalam hal teknologi. Di usia yang terbilang masih sangat dini, mereka bisa mengumumkan pada seisi dunia tentang kejadian yang mereka alami. Tak perlu bisa membaca atau menulis, dengan mengunggah video hasil rekaman mereka sendiri, mereka bisa melakukan semua hal yang mungkin bagi kita sangat mustahil dilakukan oleh anak-anak. Anak-anak generasi sekarang bisa saja mengatakan pada dunia seluruh isi hati mereka. Mereka tak lagi merasa malu dan sungkan mengadu pada pemerintah sekalipun jika mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang lain. Apakah kita masih berpikir bahwa mereka sama seperti kita di masa lalu?
Mendidik anak bukan hanya membentuk sebuah karakter, melainkan membangun fondasi. Jika kita ingin menyampaikan suatu hal, bukan lagi zamannya dengan nada tinggi dan volume keras. Generasi masa kini tak memahami hal itu sebagai sesuatu yang harus ditakuti, disegani, dan segera dilaksanakan. Mereka justru menganggap tindakan-tindakan seperti itu sebagai sebuah tantangan. Apa kita tidak bisa menyadari perbedaan itu?
Berapa lama kita telah hidup?
Berapa lama kita telah menghadapi anak-anak kita?
Berapa lama kita berinteraksi dengan mereka?
Tidakkah kita belajar dari semua itu?
Waktu yang telah kita lalui, akankah berlalu begitu saja?
#ThinkAgain #HowWeTeachOurChildren
