Aku tidak tahu bagaimana rasanya terperangkap cinta. Aku tak pernah menolak rasa tertarik dan penasaran. Tapi dulu, aku selalu mengelak hadirnya hubungan yang berasal dari rasa itu. Aku melakukannya setelah sekian tahun lamanya cintaku bertepuk sebelah tangan. Ya, cintaku (setidaknya hingga tahun 2014 lalu), tak pernah bersambut.
Hmm.. rasanya baru kemarin semua itu terjadi. Cinta monyet masa sekolah dasar dan sekolah menengah agaknya turut andil membentuk persepsiku akan cinta. Rasa yang mengiringinya seakan tak pernah berakhir indah. Seolah, aku berjalan melintasi sebuah taman bunga yang ada banyak buku berserakan di atas tanahnya dan membuatku penasaran, tapi tak ada izin bagiku untuk membuka lembarannya, bahkan sekedar menyentuhnya.
:::
Kini, hari ini, entah sejak kapan aku mendapati rasa itu. Padanya, yang bahkan belum pernah kutemui.
Aku berdo'a dan berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar jika ia adalah benar jodohku, calon suamiku, dan kelak ia menjadi suamiku, maka mulai hari ini kami tak saling mengirim pesan yang sangat dekat seperti biasanya. Tetapi aku berharap, rasa jauh itu sebagai awal kedekatan hakiki di antara kami. Aku berharap, rasa jauh ini mampu mendekatkan hatiku dan hatinya kepada Ilahi Rabbi. Dan aku berharap, kelak Allah pertemukan kami dalam ikatan yang suci dan halal. Aku berharap, Allah menjadikan kami sebagai sepasang suami-istri melalui pernikahan yang penuh berkah. Aamiin...
:::::
Teruntukmu, duhai calon imamku sayang O:-)