Halaman

Kamis, 20 November 2014

Inilah Hidup

"Kalau sesuatu sudah menjadi garis takdir dan harus dijalani, maka sejauh apapun menghindar, kita tetap harus menyelesaikannya suatu saat nanti.. Pelarian sifatnya hanya menunda karena selalu ada akhir untuk setiap permulaan. Start selalu diakhiri dengan finish.."

Demikian sepenggal balasan dari seorang penulis baru kepadaku.
Saat surat elektronik itu kuterima, aku baru saja selesai menonton film "Beautiful Mind".
Kiranya, kesimpulan tentang makna judul sebuah buku, "Fate",  tak jauh berbeda dengan film yang baru saja kutonton.

Ya, hidup adalah apa yang kita lakukan saat ini. Dan saat ini adalah rangkaian dari episode masa lalu dan masa depan. Entah hari ini akan berakhir baik atau buruk, semuanya bergantung pada cara kita menyikapinya. Kita boleh berlari atau tetap tinggal dan menghadapinya. Namun, baik lari atau tinggal, kita tetap akan menemukan akhirnya.

Inilah hidup...yang hanya ada dua tipe:::

"angan dan nyata".

PENGHARGAAN

Seorang anak muda mendaftar untuk posisi manajer di sebuah perusahaan besar. Dia lulus tahap awal dan sekarang akan bertemu dengan direktur untuk wawancara terakhir.
Direktur mengetahui bahwa dari cv-nya, pemuda tersebut memiliki prestasi akademik yang baik. Kemudian dia bertanya, "Apakah kamu mendapatkan beasiswa dari sekolah?". Si pemuda menjawab tidak.
"Apakah ayahmu yg membayar uang sekolah?"
"Ayah saya meninggal ketika saya berumur 1 tahun, ibu saya yang membayarkannya"
"Dimana ibumu bekerja ?"
"Ibuku bekerja sebagai tukang cuci."
Sang direktur meminta pemuda itu untuk menunjukkan tangannya. Si pemuda menunjukkan tangannya yang lembut dan halus.
"Apakah kamu pernah membantu ibumu mencuci baju?"
"Tidak pernah, ibuku selalu ingin aku untuk belajar dan membaca banyak buku. Selain itu, ibuku dapat mencuci baju lebih cepat dariku."
Si direktur mengatakan "Aku memiliki permintaan. Ketika kamu pulang ke rumah hari ini, pergi dan cucilah tangan ibumu. Kemudian temui aku esok hari."
Si pemuda merasa kemungkinannya untuk mendapatkan pekerjaan ini sangat tinggi. Ketika pulang, dia meminta ibunya untuk membiarkan dirinya membersihkan tangan sang ibu. Ibunya merasa heran, senang, tetapi dengan perasaan campur aduk, dia menunjukkan tangannya kepada anaknya.
Si pemuda membersihkan tangan ibunya perlahan. Airmatanya tumpah. Ini pertama kalinya dia menyadari tangan sang ibu sangat berkerut dan banyak luka. Beberapa luka cukup menyakitkan ketika ibunya merintih saat dia menyentuhnya.
Ini pertama kalinya si pemuda menyadari bahwa sepasang tangan inilah yg setiap hari mencuci baju agar dirinya bisa sekolah. Luka di tangan ibunya merupakan harga yang harus dibayar untuk pendidikannya, sekolahnya, dan masa depannya.
Setelah membersihkan tangan ibunya, si pemuda diam-diam mencuci semua pakaian yang tersisa untuk ibunya.
Malamnya, ibu dan anak itu berbicara panjang lebar.
Pagi berikutnya, si pemuda pergi ke kantor direktur.
Si direktur menyadari ada bekas air mata di mata sang pemuda. Kemudian dia bertanya, "Dapatkah kamu ceritakan apa yang kamu lakukan dan kamu pelajari tadi malam di rumahmu?"
Si pemuda menjawab,"Saya membersihkan tangan ibu saya dan juga menyelesaikan cuciannya. Saya sekarang mengetahui apa itu apresiasi. Tanpa ibu saya, saya tidak akan menjadi diri saya seperti sekarang. Dengan membantu ibu saya, baru sekarang saya mengetahui betapa sukar dan sulitnya melakukan sesuatu seorang diri. Dan saya mulai mengerti betapa penting dan berharganya  bantuan dari keluarga "
Si direktur menjawab,"Inilah yang saya cari di dalam diri seorang manajer. Saya ingin merekrut seseorang yang dapat mengapresiasi bantuan dari orang lain, seseorang yang mengetahui penderitaan orang lain ketika mengerjakan sesuatu, dan seseorang yang tidak menempatkan uang sebagai tujuan utama dari hidupnya. Kamu diterima."

:::
Seorang anak yang selalu dilindungi dan dibiasakan diberikan apapun yang mereka inginkan, akan mengembangkan " mental ke-aku-an" dan selalu menempatkan dirinya sebagai prioritas. Dia akan tidak peduli dengan jerih payah orangtuanya, apalagi orang lain.Apabila kita tipe orang tua seperti ini, apakah kita menunjukkan rasa cinta kita atau justru menghancurkan anak-anak kita?

Kita dapat membiarkan anak-anak tinggal di rumah besar, makan makanan enak, les piano, menonton dari TV layar besar. Tetapi ketika kita memotong rumput, biarkan mereka mengalaminya juga. Setelah makan, biarkan mereka mencuci piring mereka dengan saudara2 mereka. Ini bukan masalah apakah kita mampu memperkerjakan pembantu atau tidak, tetapi karena kita ingin mencintai mereka dengan benar.

Tidak peduli seberapa kayanya orangtua mereka, suatu hari nanti mereka akan menua, seperti ibu si pemuda. Yang terpenting, anak-anak mempelajari cara mengapresiasi usaha dan pengalaman akan kesulitan dan belajar untuk bekerja dengan orang lain agar segala sesuatu terselesaikan dengan baik.

Coba lanjutkan cerita ini ke orang-orang yang Anda kenal. Mungkin cerita ini dapat mengubah kehidupan seseorang?

Uneg-Uneg

Tahukah kalian, teman-teman?
Suara hati rakyat kecil yang sesungguhnya mengenai kenaikan harga BBM adalah:
- pada awalnya memang keberatan, tetapi mereka (khususnya warga Jogja) lebih menyukai ketenangan.
- mereka puas asal dapat hidup tentram, tanpa ancaman.
- telah puluhan tahun mereka hidup "sengsara", tetapi mereka berusaha menikmatinya.

Tidakkah kalian tahu akibat aksi demo dua hari lalu, banyak rakyat yang mengeluh?

Bukan. Bukan karena melonjaknya harga BBM, melainkan karena segelintir pemuda yg katanya menyuarakan aspirasi rakyat ternyata justru membuat mereka semakin "sengsara".

Akibat aksi demo di sekitar UIN pada Selasa & Rabu lalu, banyak kendaraan yg dialihkan ke jalan2 alternatif yg semula kondusif, menjadi macet berjam-jam. Hal itu tentu berdampak pada penggunaan bahan bakar kendaraan yg terjebak kemacetan. Belum lagi waktu yg tersita lbh banyak demi mencapai tempat tujuan.
Selain itu, tdk sedikit tempat usaha yg terpaksa ditutup oleh pemilik atau karyawannya.
Tidakkah kalian berfikir, berapa banyak kerugian yg terjadi akibat aksi anarkis semacam itu?
Melempar batu, mengusik ketenangan... Itukah yg disebut pro-rakyat??

Teman2 mahasiswa yg pernah beraksi demo serupa, tidakkah pernah kalian fikir apa yg sangat mungkin terjadi dalam aksi spt itu?
Terkena molotov, batu, gas air mata, rantai, pisau, peluru?
Apakah kalian tidak berfikir, bagaimana jika hari itu adalah hari terakhir jantung berdetak? Saat terakhir utk bernafas?
Tidakkah kalian sayang kepada bapak, ibu, dan saudara-saudari kalian??

Kawanku, hidup ini singkat. Untuk apa dipersingkat? Bukankah masih banyak mimpi yg ingin kita gapai?

Ayo, renungkanlah... dan mulai perbaiki diri.
Kita tak pernah tahu kapan malaikat maut menghampiri atau bahkan menjemput..
Kita hanya bisa yakin bahwa ia akan datang. Ia pasti datang. Sayangnya, kita tidak akan pernah tahu kapan ia akan datang.
Ingat, malaikat maut tak punya BB, WA, FB, bahkan nomor telpon. Kita tidak bisa memintanya menunda kedatangan.

Mungkin kalian heran kenapa aku sering sekali membahas kematian.
Mungkin kalian mengira bahwa aku mengalami paranoid.

Ya. Paranoid alias parno. Mungkin memang benar itulah yg terjadi padaku. Tapi aku tidak separah itu. Aku benar2 sadar akan kecemasanku.

Sering aku berfikir apa yg akan terjadi jika aku t'lah tiada. Spt apa keadaanku saat itu, di mana aku berada, bagaimana keluargaku mengatahuinya, dan apa yg akan mereka lakukan?

Aku cemas, aku takut, & aku sedih..

Aku khawatir pada mereka & juga pada barang2ku..
Tapi aku lebih khawatir pada keadaanku kelak. Akankah aku gemetaran saat berhadapan dengan para malaikat? Akankah aku mencicipi sulitnya meniti jembatan? Akankah aku merasakan panasnya jilatan api neraka? Akankah aku mendapat pengampunan?
Akankah aku dapatkan rumah & sajian yg indah di sana? Akankah aku dapat bertemu & berkumpul dengan orang2 yg kusayangi?

Setiap hari, bayang2 kematian semakin jelas tergambar... Ia berjalan semakin dekat.

Tidakkah kalian merasakannya?

Jumat, 07 November 2014

Inilah Hidup

"Kalau sesuatu sudah menjadi garis takdir dan harus dijalani, maka sejauh apapun menghindar, kita tetap harus menyelesaikannya suatu saat nanti.. Pelarian sifatnya hanya menunda karena selalu ada akhir untuk setiap permulaan. Start selalu diakhiri dengan finish.."

Demikian sepenggal balasan dari seorang penulis baru kepadaku.
Saat surat elektronik itu kuterima, aku baru saja selesai menonton film "Beautiful Mind".
Kiranya, kesimpulan tentang makna judul sebuah buku, "Fate",  tak jauh berbeda dengan film yang baru saja kutonton.

Ya, hidup adalah apa yang kita lakukan saat ini. Dan saat ini adalah rangkaian dari episode masa lalu dan masa depan. Entah hari ini akan berakhir baik atau buruk, semuanya bergantung pada cara kita menyikapinya. Kita boleh berlari atau tetap tinggal dan menghadapinya. Namun, baik lari atau tinggal, kita tetap akan menemukan akhirnya.

Inilah hidup...yang hanya ada dua tipe:::

"angan dan nyata".