Tahukah kalian, teman-teman?
Suara hati rakyat kecil yang sesungguhnya mengenai kenaikan harga BBM adalah:
- pada awalnya memang keberatan, tetapi mereka (khususnya warga Jogja) lebih menyukai ketenangan.
- mereka puas asal dapat hidup tentram, tanpa ancaman.
- telah puluhan tahun mereka hidup "sengsara", tetapi mereka berusaha menikmatinya.
Tidakkah kalian tahu akibat aksi demo dua hari lalu, banyak rakyat yang mengeluh?
Bukan. Bukan karena melonjaknya harga BBM, melainkan karena segelintir pemuda yg katanya menyuarakan aspirasi rakyat ternyata justru membuat mereka semakin "sengsara".
Akibat aksi demo di sekitar UIN pada Selasa & Rabu lalu, banyak kendaraan yg dialihkan ke jalan2 alternatif yg semula kondusif, menjadi macet berjam-jam. Hal itu tentu berdampak pada penggunaan bahan bakar kendaraan yg terjebak kemacetan. Belum lagi waktu yg tersita lbh banyak demi mencapai tempat tujuan.
Selain itu, tdk sedikit tempat usaha yg terpaksa ditutup oleh pemilik atau karyawannya.
Tidakkah kalian berfikir, berapa banyak kerugian yg terjadi akibat aksi anarkis semacam itu?
Melempar batu, mengusik ketenangan... Itukah yg disebut pro-rakyat??
Teman2 mahasiswa yg pernah beraksi demo serupa, tidakkah pernah kalian fikir apa yg sangat mungkin terjadi dalam aksi spt itu?
Terkena molotov, batu, gas air mata, rantai, pisau, peluru?
Apakah kalian tidak berfikir, bagaimana jika hari itu adalah hari terakhir jantung berdetak? Saat terakhir utk bernafas?
Tidakkah kalian sayang kepada bapak, ibu, dan saudara-saudari kalian??
Kawanku, hidup ini singkat. Untuk apa dipersingkat? Bukankah masih banyak mimpi yg ingin kita gapai?
Ayo, renungkanlah... dan mulai perbaiki diri.
Kita tak pernah tahu kapan malaikat maut menghampiri atau bahkan menjemput..
Kita hanya bisa yakin bahwa ia akan datang. Ia pasti datang. Sayangnya, kita tidak akan pernah tahu kapan ia akan datang.
Ingat, malaikat maut tak punya BB, WA, FB, bahkan nomor telpon. Kita tidak bisa memintanya menunda kedatangan.
Mungkin kalian heran kenapa aku sering sekali membahas kematian.
Mungkin kalian mengira bahwa aku mengalami paranoid.
Ya. Paranoid alias parno. Mungkin memang benar itulah yg terjadi padaku. Tapi aku tidak separah itu. Aku benar2 sadar akan kecemasanku.
Sering aku berfikir apa yg akan terjadi jika aku t'lah tiada. Spt apa keadaanku saat itu, di mana aku berada, bagaimana keluargaku mengatahuinya, dan apa yg akan mereka lakukan?
Aku cemas, aku takut, & aku sedih..
Aku khawatir pada mereka & juga pada barang2ku..
Tapi aku lebih khawatir pada keadaanku kelak. Akankah aku gemetaran saat berhadapan dengan para malaikat? Akankah aku mencicipi sulitnya meniti jembatan? Akankah aku merasakan panasnya jilatan api neraka? Akankah aku mendapat pengampunan?
Akankah aku dapatkan rumah & sajian yg indah di sana? Akankah aku dapat bertemu & berkumpul dengan orang2 yg kusayangi?
Setiap hari, bayang2 kematian semakin jelas tergambar... Ia berjalan semakin dekat.
Tidakkah kalian merasakannya?