Rabu, 3 September 2014, dini hari hingga Subuh, aku mendapat mimpi yg sangat aneh. Berikut adalah kronologi mimpi tsb...
Saat itu hari masih terang. Aku sedang duduk2 di ruang tamu rumah Nitikan. Anehnya, ruangan itu tak beratap. Aku bisa melihat langit dan ada sebuah pohon pisang yg menjulang hingga aku pun bisa melihatnya.
Saat mendongak ke atas itulah aku melihat sebuah pesawat dari suatu maskapai penerbangan Indonesia (akan kutulis secepatnya jika berhasil mengingatnya) terbang sangat rendah. Ia persis melintas di atas rumah dari arah utara ke selatan. Saat itu di sisi utaraku (yakni di belakangku krn kala mendongak aku menghadap ke selatan) ada saudara kembarku. Dan yg kuheran, ibuku sedang melintas dari arah ruang tengah bermaksud ke teras. Aku berkata pada beliau,"Bu', ada pesawat.". Belum sempat beliau menjawab, sepersekian detik kemudian aku merasa pesawat itu akan jatuh. Dan ternyata dugaanku benar. Pesawat itu tertarik kembali ke utara setelah sebuah tali yg menjuntai di badan pesawat yg entah dari mana asalnya, tersangkut atap ruang "kamar wetan". Saat itu, aku spontan berteriak. Pesawat itu terpental perlahan ke arah lantai, lalu ia sempat sedikit berputar posisi menjadi setengah terlentang sebelum akhirnya jatuh. Ibu dan saudara kembarku sempat menghindar, tetapi bagian belakang pesawat sepanjang +- 4 meter itu menimpa kakiku saat aku jatuh terduduk dg tetap menghadap ke selatan. Aneh, kukira pesawat itu berat. Ternyata sangat ringan. Sedikit berdebam, seluruh badan pesawat itu akhirnya mendarat di lantai ruang tamu.
Aku, dibantu Ibu dan saudara kembarku, segera memindahkan bagian pesawat yg menimpaku. Lalu Ibu memintaku segera memberitahukan hal ini kepada orang lain, dengan maksud mencari bantuan. Tapi, saat hendak membuka pintu ke arah teras, kulihat seseorang berkaus hijau & bercelana pendek, dg penampilan kumal, dekil, & sangat berantakan sedang duduk di kursi teras. Ia yg semula menghadap ke utara, tiba2 melihatku. Aku tak tahu, tetapi ia spt orang kurang waras. Dan anehnya lagi, saat itu hari telah gelap.
Buru2, kututup pintu & kukunci rapat, lalu segera kuberitahu ibuku semua hal yg baru saja kulihat. Akhirnya kami memutuskan utk memberitahu tetangga keesokan paginya, stlh hari terang.
Paginya, aku keluar hingga ke mulut gang. Tak kuperdulikan orang aneh yg saat itu tlh berada di mulut gang. Kuceritakan kejadian pesawat itu kepada tetangga yg kutemui. Saat itulah terlintas pemikiran utk melihat keadaan di dalam pesawat dan barangkali menolong para korban.
Aku bergegas kembali ke rumah, diikuti oleh tetangga2ku.. lalu kudekati badan pesawat itu dg rasa cemas & sedikit ngeri. Aku bersiap menyaksikan keadaan apapun yg mgkn saja ada di dalam sebuah pesawat yg jatuh.
Aku melihat bbrp penumpang nampak tertidur lelap. Pakaiannya warna-warni, begitu pun properti yg mereka bawa. Kengerianku sedikit berkurang, setidaknya aku tak menjumpai penumpang yg terluka & berdarah-darah.
Aku kembali ke luar, melihat keadaan di luar.. setelah itu kembali ke dalam.
Sambil menunggu bantuan pihak berwenang, kurapikan seisi ruang tamu. Meski tahu bahwa semua hal yg ada di sekitar lokasi termasuk barang bukti, aku nekat merapikannya. Bahkan kucoba untuk membongkar isi kabin pesawat malang itu.
Kudapati bbrp org mirip boneka dg pakaian cerah. Tak ada warna hitam dan putih di dalam pesawat itu. Semuanya berwarna cerah. Kukeluarkan semuanya, lalu kuperiksa satu persatu.
Akhirnya kutemukan sebuah kotak kecil berukuran +- 10 gram & tanpa sudut yg setengahnya berisi cairan berwarna mirip lampu lalu lintas. Saat kulihat lbh dekat, kudengar suara "ngeses" dari dlm kotak, & kuberitahukan hal itu pada org lain. Meski begitu, seseorang tetap memintaku utk membukanya. Sblm melakukannya, kudekatkan kotak bening kecil itu ke telinga kananku. Kudengar desis cairan itu bertambah keras. Seiring makin kerasnya suara itu, tampak peningkatan suhu pada termometer ruang yg entah dari mana asalnya tiba2 ada di depanku. Semakin merah, semakin panas, lalu saat akhirnya tutup kotak itu terbuka.... bum! Ledakan kecil terjadi. Apipun memercik. Buru2 kukibaskan api itu dari tanganku yg seketika Ibu telah menutupnya dg sepotong kain basah. Kakak sulungku yg entah sejak kapan berada di situ, tlh membuka tabung APAR dan berhasil memadamkan api. Saat itulah aku terjaga dan dg nafas memburu, aku beristighfar berulang kali..
Aku kembali mendapat mimpi yg aneh :-I